Kamu Tukang Bohong

Di tengah simpati mendalam atas para korban bencana alam di beberapa wilayah NKRI ini, berita mengenai sepak terjang beberapa RS (bukan rumah sakit, tapi inisial nama orang) rasa-rasanya tidak meringankan keprihatinan, malah bikin tambah prihatin. Yang satu bilang dicekal, yang lain bilang dibikin babak belur. Apakah memang begitu? Saya tidak percaya, bahkan meskipun ada foto wajah babak belurnya. Kalau memang kenyataannya begitu, berarti ketidakpercayaan saya itu keliru. Saat menulis ini, saya yakin bahwa ketidakpercayaan saya itu benar. 

Saya ingat pada masa Dilan dulu ada lagu ini:

Yang membuat saya prihatin pertama-tama bukan bahwa mereka berbohong (mungkin tinggal itu modal yang mereka punya), melainkan bahwa tak sedikit orang yang percaya pada kebohongan alias hoax dan bahkan jadi pengikut fanatiknya. Jadi, ini bukan maksud saya menjelek-jelekkan RS (karena inisial saya juga RS #halah), melainkan followersnya yang tak mau buka mata terhadap kebohongan RS dan tetap keukeuh membela orang-orang macam begini. Ini belum termasuk isu PKI yang tak kalah memprihatinkannya.

Is there really such a thing as white lie? Saya sangat-sangat-sangat meragukan atribut white. Saya maklum bahwa orang bisa menganggap yang satu lebih kecil dari pada yang lain, atau yang satu lebih penting daripada yang lain, tetapi kalau berkenaan dengan kebohongan, saya tak perlu memberinya warna. Bohong ya bohong saja, titik, tinggal mengakui bahwa itu bohong. Kalau tidak, orang tak akan berhenti membuat cover up story [maaf, saya ini sedang belajar bahasa Inggris], yang tampaknya saja baik untuk jangka pendek (itu mengapa orang menyebutnya white lie), tetapi jelas menunjukkan ketimpangan dalam power relation (pihak penggembira white lie hendak memanipulasi, mengontrol reaksi orang lain).

Teks bacaan hari ini memang tidak menarasikan orang-orang yang membuat cover up story. Mereka jujur dalam berdalih. Artinya, dalihnya itu memang masuk nalar tetapi barangkali bisa jadi cover up story juga, bukan dengan maksud membangun white lie, melainkan mempertahankan cinta bersyarat. Saya mau berbuat baik asalkan bla bla bla. Saya mau meneladan kebaikan Guru asalkan bla bli blu. Saya mau mencintai orang asalkan bla ble blo. Begitulah kebanyakan orang hidup: dengan cinta bersyarat.

Sayangnya, persis itulah yang diminta Guru dari Nazareth dari orang beriman: supaya orang sungguh tulus ikhlas dalam mencinta. Aneka hal yang jadi syarat mesti ditanggalkan dan orang tinggal semata dengan cinta sesungguhnya, yang bahkan tak punya tempat ‘untuk meletakkan kepalanya’, alias bebas untuk mencinta tanpa beban, apalagi yang mesti ditanggung orang lain. Mengaku beriman tetapi memelihara cinta bersyarat tak lain adalah jalan untuk jadi tukang bohong. Yang dibohongi tak lain adalah diri sendiri dan Tuhannya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin mampu mencinta-Mu tanpa syarat. Amin.


RABU BIASA XXVI B/2
3 Oktober 2018

Ayb 9,1-12.14-16
Luk 9,57-62

Rabu Biasa XXVI A/1 2017: Ciyus?
Rabu Biasa XXVI C/2 2016: Hello Bystander!
Rabu Biasa XXVI B/1 2015: Tak Semudah Omongannya
Rabu Biasa XXVI A/2 2014: Tak Sayang, Tak Kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s