Ke Mana Nih Malaikat?

Ketika saya ceritakan pengalaman terhindar dari taksi berkecepatan tinggi ini, tetangga kamar saya mengomentari komentar saya sendiri. Komentar saya,”Sebetulnya malah bagus kalau waktu itu ketabrak dan mati saja ya, tak usah menanggung susahnya hidup ini. Kenapa malaikat itu repot-repot memperlambat lari saya sih ya?” Komentar tetangga kamar saya ini,”Lho justru malaikat itu membantu supaya kamu diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupmu.” Hahaha… asem teles. Waktu itu hidup saya baik, tidak kenal dosa-dosa yang aneh seperti sekarang ini!

Akan tetapi, dari komentar tetangga sebelah itu saya ngeh akan satu hal: bahwa fungsi pokok malaikat pelindung adalah mengantar orang pada keselamatan dan keselamatan di sini tidak bisa direduksi sebagai keselamatan fisik semata. Piye jal, kalau keselamatan direduksi ke situ? Asumsi mengenai malaikat pelindung langsung runtuh karena fakta seperti bencana alam yang menelan banyak korban nyawa: apakah malaikat itu sedang berlibur atau mereka lalai menjalankan tugas?

Rupanya tidak begitu. Malaikat pelindung memang bertugas melindungi orang supaya jiwanya dapat selamat bagaimanapun kondisi fisiknya. Maka, caranya pun tidak bisa seragam untuk semua orang dan outputnya juga bisa berbeda untuk setiap orang. Bisa jadi ia intervensi untuk mengantisipasi tetapi mungkin juga untuk mengubah hasil akhir. Entahlah, itu suka-suka malaikatnya aja. Mereka tetap menjalankan tugas bahkan setelah nyawa orang direnggut oleh malaikat kematian.

Loh, kalau arbitrer begitu, ya sudah toh tinggal berbuat sesuka hati aja kan, Mo, toh malaikat itu bisa melindungi sebelum atau sesudah anu? [Anu apa sih gak jelas?]
Memang. Memang kita tinggal berbuat sesuka hati kok.
Cuma persoalannya, ini problem klasik, ‘sesuka hati’ itu cuma jadi slogan peyoratif dan orang terbiasa dengan slogan begitu untuk membenarkan sikap berdasarkan like-dislike. Orang tidak bisa sungguh-sungguh masuk ke dalam hatinya selain menganggap perasaannya adalah suara hati itu sendiri sehingga suara hati dicemari oleh insting like-dislike.

Andaikan semua orang sungguh bisa masuk ke kedalaman hatinya, tentu malaikat pelindung lebih mudah menjalankan tugasnya. Kenapa?
Saya curiga tetapi cenderung yakin bahwa malaikat itu sungguh dari Allah dan bersekutu dengan Allah dan karena itu, tidak bisa diperlakukan seperti orang memperlakukan objek lainnya. Ia atau mereka lebih kerap bermain dalam hati nurani daripada campur tangan seperti memperlambat lari saya sewaktu SD dulu itu.

Maka dari itu, entah kaya-miskin, sehat-sakit, suka-duka, sebetulnya malaikat pelindung itu tidak ke mana-mana. Orang beriman mesti pandai-pandai masuk ke kedalaman hatinya untuk reuni dengan malaikat pelindungnya. Pada momen itu, orang sungguh bisa bertingkah sesuka hatinya dengan senantiasa sadar apakah pilihan-pilihannya bermuara pada fungsi malaikat pelindung tadi: mengantar orang pada keselamatan jiwanya.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin peka terhadap gerak roh-Mu dalam hati kami. Amin.


PW PARA MALAIKAT PELINDUNG
Senin Biasa XXVI B/2
2 Oktober 2018

Kel 23,20-23a
Mat 18,1-5.10

Posting 2017: Adakah Hal Sepele?
Posting 2015: Duit Selangit, Pelayanan Elit
 
Posting 2014: Where is Your Guardian Angel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s