Cinta Mbelgedhes

“Mama, temanku, cewek, tadi crita kalau bapak ibunya akan cerai,” demikian cerita gadis ABG-ku, 14 tahun, saat kujemput pulang sekolah tadi. Kalimat itu disampaikan gadisku secara sangat casual, secasual reaksi temannya yang katanya hanya berucap “Oh” (dan kemudian berbalik pergi meninggalkan ibunya yang beberapa detik sebelumnya menyampaikan berita menyedihkan itu.
Kutahu gadis ABG-ku sebenarnya cukup prihatin dengan nasib temannya itu. Namun dia juga pasti tak terlalu paham situasi temannya karena dia berada dalam dekapan hangat kedua orang tua yang utuh. Anak, “manusia kecil” selalu menjadi korban utama dari persoalan-persoalan besar “manusia besar”, para orang tua mereka. Aku masih termangu…

Demikian bunyi status facebook yang saya curi dari wall seorang kawin (kawan putri, dan memang status di KTP-nya itu kawin, sepertinya). Semoga tidak ada pengaduan ke YLKI atau Komnas HAM ibu-ibu.
Malam sebelum status facebook itu muncul, saya menikmati perbincangan dari dunia pendidikan yang sekarang ini memunculkan gejala aneh: posisi orang tua murid menjadi sedemikian kuat untuk mengontrol mekanisme pendidikan formal sedemikian rupa sehingga jobdes sekolah malah sebetulnya ialah mendidik orang tua murid! Orang tua berlagak sok cinta pada anak-anak sehingga merasa harus protes terhadap pelaksanaan MOS yang dalam kaca mata kudanya terlihat sebagai kekerasan terhadap anak: upacara di lapangan sebagai bentuk penjemuran anak, dinamika kelompok dalam kompleks sekolah sebagai perpeloncoan untuk mempermalukan anak, dan sebagainya.

Teks Injil hari ini memang tidak bisa dipakai sebagai bahan sumber seminar ‘dampak multidimensional perceraian’ tetapi logika teksnya sendiri mengindikasikan tegasnya sikap Yesus mengenai perkawinan. Institusi perkawinan itu alamiah dan berarti direstui Allah juga. Dalam tradisi Yahudi, jika ikatan ini diputus, itu semata karena kebebalan hati orang, dan jika memang kemungkinan terburuk adalah cerai, pihak laki-laki mesti menyerahkan surat cerai kepada pihak perempuan. Kalau tidak, perempuan menjadi sangat rentan di hadapan hukum: ia tak bisa menikah dengan laki-laki lain tanpa risiko dirajam.

Gereja Katolik lebih ketat lagi. Begitu institusi perkawinan sah (sakramen perkawinan), tak ada lagi hukum yang mengganggu ikatan perkawinan itu, termasuk cerai sipil, sampai terbukti bahwa sakramen perkawinannya tidak valid (misalnya menikah di bawah umur, ada unsur paksaan – pemerkosaan, penipuan pihak tertentu – laki-laki mengaku perempuan, sudah punya ikatan nikah tapi tidak declare). Itulah yang disebut sebagai anulasi atau pembatalan perkawinan yang secara logis sama sekali berbeda dari perceraian. Dosen hukum saya memakai analogi gol yang dianulir dalam pertandingan sepak bola: memang terjadi perkawinan, tetapi terjadinya perkawinan itu tidak sah, maka bisa dianulasi. Ini beda dengan perceraian. Gereja Katolik tak mengizinkan apalagi menyarankan perceraian.

Teks Injil mengenai sikap Yesus terhadap perkawinan itu lalu disambung lagi-lagi dengan pernyataannya mengenai anak-anak [yang dalam status facebook seorang kawin atau temin tadi begitu rentan akibat perceraian, akibat dilindas oleh otoritas orang dewasa yang katanya cinta (mbelgedhes)]. Entah kawin atau tidak, orang mesti punya komitmen pada Yang Satu; karena dari situlah mengalir sikap welcome terhadap hidup, entah untung atau malang, entah sehat atau sakit, entah kaya atau miskin, entah terhormat atau hina. Aneka masalah dibuat kebanyakan orang karena titik berangkatnya terbalik: dari cari untung, cari sehat, cari kaya, cari hormat. Maklum, orang memang lebih mudah melihat dengan mata daripada dengan hati.

Tuhan, teguhkanlah iman kami pada-Mu supaya Engkaulah satu-satunya yang jadi orientasi hidup kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVII B/1
4 Oktober 2015

Kej 2,18-24
Ibr 2,9-11
Mrk 10,2-16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s