Memelihara Semangat

Ada perbedaan paham mengenai Roh Kudus dalam agama Islam dan Kristen/Katolik, tetapi sekali lagi, seperti sudah saya singgung dalam posting Hoaks sampai Kiamat, sebaiknya itu diterima sebagai suatu prasangka, bukan fakta. Ini tidak dimaksudkan untuk mengurangi kadar kepercayaan agama Anda. Sebaliknya, ini demi membuat kepercayaan agama Anda itu terhubung dengan realitas kehidupan.

Apa toh kenyataan hidup Anda? Lha ya mboh. Saya tahunya Anda sedang membaca teks ini. Selebihnya, Anda sendirilah yang semestinya tahu: apa perasaan dominan sebelum membaca teks ini (jengkel karena harus membereskan pecahan piring yang dijatuhkan anak, lega karena pekerjaan sudah beres, bingung karena tak ada pekerjaan, misalnya), apa perasaan dominan saat membaca teks ini (bosan karena paling-paling isinya ya cuma begitu, malas berpikir dan berharap ada cerita lucu, semangat karena penulisnya giblig, bingung karena tulisannya berat, penasaran karena gak jelas maksudnya, misalnya) dan apa perasaan setelah membaca teks ini (biasa aja, semakin ragu, semakin bingung, misalnya).

Itu baru satu aspek dari kenyataan hidup Anda. Yang lainnya bisa juga diselisik pikiran-pikiran yang muncul saat membaca dan setelahnya, ide-ide baru atau ide lama dengan perspektif atau konteks baru (ternyata ada gunanya ya èpoché itu, jebulnya beda tidak identik dengan bertentangan, roh itu bisa kudus bisa mak bludhus, misalnya). Aspek lain yang tak kalah penting ialah kehendak atau dorongan yang muncul setelah membaca teks (mau képoin yang berbeda supaya lebih paham, mau menulis tentang roh yang bisa mak jêgagig membisiki orang untuk membuat hoaks, mau lebih asertif, mau lebih mendalami teks Alquran atau Injil, misalnya).

Tiga aspek kenyataan hidup Anda itulah yang dalam blog ini disebut sebagai Roh. Tak perlu buru-buru menghubungkannya dengan Roh Kudus, yang untuk agama Islam begini dan agama Kristen/Katolik begitu tadi. Nah, Roh inilah yang menurut saya dijanjikan oleh Guru dari Nazareth itu dalam teks bacaan hari ini: kalau Anda memintanya, Tuhan mesti memberikannya.
Problemnya, untuk melihat ketiga aspek realitas hidup tadi bisa saja orang ogah-ogahan dan ujung-ujungnya jadi Roh tadi mengambil wujud buruk rupa sehingga tak bisa disebut sebagai Roh Kudus.

Roh kok mengambil wujud buruk rupa itu gimana toh, Rom? Lha ya itu tadi, karena orang tak jeli mengenali gerak dalam batinnya tadi, tuntunan untuk mengambil keputusan tidak berasal dari lubuk terdalam, tetapi dari misalnya apa kata orang (tak sadar bahwa secara instingtif ia cuma berprinsip asal bapak senang), terpaksa mengikuti aturan, dan seterusnya. Dalam ulasan kemarin, orang mengambil tindakan karena keyakinan-keyakinan yang bisa saja keliru, tidak berangkat dari level haqqul yaqin. Bagaimana supaya orang bisa berangkat dari level haqqul yaqin?

Yang disodorkan dalam blog ini adalah suatu pembedaan roh, dengan beberapa pedoman yang dapat menuntun ke arah mana batin bergerak: kebodohan atau kebijaksanaan, kenaifan atau kekudusan. Tak ada orang kudus yang tak sadar realitas hidupnya dan mengambil keputusan dan tindakan yang tidak memuliakan kemanusiaan dan Tuhannya.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami dapat hidup dengan semangat seturut Roh Kudus-Mu. Amin.


KAMIS BIASA XXVII B/2
11 Oktober 2018

Gal 3,1-5
Luk 11,5-13

Kamis Biasa XXVII A/1 2017: Doa Kehilangan
Kamis Biasa XXVII C/2 2016: Mbok Serius
Kamis Biasa XXVII B/1 2015: Susahnya Meminta

Kamis Biasa XXVII A/2 2014: Keinginan Yang Melecehkan Kebutuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s