Poligama Sontoloyo

Mengenai demokrasi sontoloyo saya sudah menuangkannya dalam posting Asumsi Keliru Demokrasi. Mengenai politisi sontoloyo juga bisa dimengerti dari posting Rasionalitas Permainan dan Model Demokrasi: mereka yang menghambat kinerja pemerintah demi prinsip oposisi, pokoknya waton muni supaya pemerintah kehilangan kepercayaan, entah memakai data atau hoaks. Nah, mengenai politik sontoloyo, tak perlu saya singgung selain dalam judul karena sudah disinggung sebagai keceplosannya seorang presiden yang gemes terhadap politisi sontoloyo tadi. Sontoloyonya masih bisa dibahas singkat: seperti bajingan sebagai sebutan pengemudi gerobak, sontoloyo adalah ‘profesi’ penggembala bebek. Perkara kemudian kata itu dipakai dalam bahasa cakap untuk mengumpat, entah bagaimana ceritanya.

Barangkali teks bacaan hari ini pun bisa ditangkap sebagai seruan kepada orang beragama sontoloyo. Apa ada agama sontoloyo? Ya gak ada. Adanya orang beragama secara sontoloyo. Loh, seperti apa itu beragama kok secara sontoloyo? Ya lihat saja teks bacaan hari ini: Kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, sontoloyo kamu, bukan damai, melainkan pertentangan!
+ Nah, kan ada sontoloyonya.
– Hahaha, lha itu kan tambahan dari Romo sendiri. Pada teks aslinya gak ada tuh sontoloyo.
+ Haiya sama aja, ‘pertentangan’ juga gak ada pada teks aslinya!
Cape’ deh diskusi sama Romo!
+ Capek ya istirahat.

Memang menerjemahkan itu tidak mudah, dan saya sendiri juga tidak tahu mesti menerjemahkan διαμερισμόν (diamerismon), division atau dissension dengan kata apa selain pertikaian atau pertentangan. Akan tetapi, mungkin memang terjemahan konteks lebih penting daripada terjemahan teksnya sendiri. Jika teks hari ini diparalelkan dengan tulisan Matius misalnya, akan ditemukan pengertian yang lebih komplet: Jangan kamu menyangka, sontoloyo, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang [loh kok ada sontoloyonya lagi ya?].

Jadi, pertentangan dalam teks hari ini lebih tepat dimengerti dalam konteks fungsi pedang. Meskipun diuraikan soal anak melawan ortu, ibu melawan anak perempuan, dan seterusnya, poinnya bukan bahwa Tuhan datang membawa perang. Perang itu bergantung pada pilihan sikap yang diambil orang dan pilihan sikap itulah yang merepresentasikan fungsi pedang yang menebas, memisahkan. Kalau begitu, orang beragama secara sontoloyo ialah mereka yang ambil dua jalan pintas. Pertama, beragama untuk cari aman-damai (lari dari tanggung jawab sosial), cari duit, cari posisi, cari kekuasaan. Kedua, beragama untuk cari perkara, cari gara-gara dengan berperang. Keduanya benar-benar sontoloyo.

Yang beragama secara nonsontoloyo ialah mereka yang bersusah payah menemukan sambungan antara Sabda Allah dan tanggung jawab sosial. Kenapa susah payah? Justru, seperti posting kemarin, karena situ bukan Tuhan, seperti saya juga bukan. Sesama bukan Tuhan, mari cari bersama-sama bagaimana bunyi Sabda Allah itu untuk kemanusiaan, tentu dengan mengikis hoaks, dengan tabayun. Ngeri kan kalau cuma karena tayangan video pembakaran bendera njuk orang berlomba-lomba menyerukan perang penuh kebencian kepada kelompok lain? Kalau itu terjadi, sontoloyo mendapatkan maknanya seperti dituliskan di KBBI: konyol, tidak beres, bodoh!

Tuhan, singkirkanlah kesombongan yang membuat kami hanya jadi orang bodoh dalam beriman. Amin.


KAMIS BIASA XXIX B/2
25 Oktober 2018

Ef 3,14-21
Luk 12,49-53

Kamis Biasa XXIX A/1 2017: Mana Yang Sakral
Kamis Biasa XXIX C/2 2016: Cinta Rese’
Kamis Biasa XXIX B/1 2015: Konflik tapi Damai

Kamis Biasa XXIX A/2 2014: Benci tapi Kok Cinta Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s