NKRI Harga Meninggal

Mari tinggalkan (koruptor dan politisi) sontoloyo, bahkan meskipun mereka masih juga berulah mengacaukan negeri ini. Namanya juga sontoloyo, mau dipermak bagaimanapun ya tetap sontoloyo. Maklum, kita semua adalah sontoloyo, seberapapun kadarnya. Untuk mengurangi kadar sontoloyo itu, teks bacaan hari ini merekomendasikan keterampilan membaca tanda-tanda zaman, yang juga tidak gampang.

Membaca tanda-tanda zaman itu barangkali bisa diumpamakan sebagai manajer tim bal-balan atau olah raga lainnya (kecuali catur) yang memerlukan pengamatan komprehensif [halah mentang-mentang mau ujian komprehensif!] terhadap performa tim maupun lawannya. Nah, bayangkanlah jika seorang manajer tim hanya bisa melihat kelemahan tim sendiri tanpa melihat kelemahan tim lawan atau hanya bisa melihat kekuatan tim lawan tanpa melihat kekuatan tim sendiri. Bisa dipastikan manajer ini akan dipecat bahkan sebelum babak pertama selesai. [Lebay amat, Rom]

Membaca tanda-tanda zaman adalah soal membaca ‘waktu’, dan ini tentu bukan lagi hanya soal membaca jarum jam dan penyesuaian zona wilayahnya, melainkan keseluruhan konteks hidup. Jika orang mampu membaca waktu secara bijak, kemungkinan besar ia juga mampu menangkap kehendak Allah dalam taraf tertentu. Mengapa dalam taraf tertentu? Soalnya, begitu ia mengklaim bisa menangkap kehendak Allah secara mutlak, ia berubah jadi sontoloyo yang mediocre alias setengah-setengah itu. Saya sisipkan contoh membaca ‘waktu’ yang barangkali berguna untuk mengantisipasi agenda para sontoloyo itu.

Jadi, kalau kemarin tiba-tiba di dunia maya beredar begitu banyak video provokatif yang memuat kebencian terhadap salah satu ormas Islam tersebut, semestinya orang yang bisa membaca tanda-tanda zaman tak akan terprovokasi. Orang seperti saya yang tak bisa membaca teks Arab, bisanya ya cuma plonga-plongo membuat bracketing alias èpoché; mesti cari tahu dulu apakah yang dibakar itu benar kalimat tauhid (meskipun saya juga gak paham persoalannya bagaimana tulisan kalimat tauhid bisa diidentikkan dengan prinsip tauhidnya sendiri).

Sedih dan prihatin rasanya kalau melihat pemuka agama yang bahkan mengelola emosi saja belum begitu terampil sehingga mudah terbakar oleh isu-isu sontoloyo poligama. Dari teman-teman Muslim saya belajar mendapatkan tabayun sehingga prasangka buruk tidak digelembungkan oleh kepentingan politik sontoloyo. Tanpa tabayun, misalnya, calon pemimpin bisa kesulitan membedakan antara wajah lebam karena oplas dan asudahlah…. berkubang dalam penyesalan masa lalu adalah sontoloyo dan pemborosan waktu. Sontoloyo pemborosan waktu juga terjadi ketika orang hanya melihat sisi negatif zamannya. Jauh lebih penting, sebagaimana manajer tim bal-balan tadi, memberikan tanggapan yang tepat supaya proyek keselamatan universal Allah itu terwujud dari hari ke hari di bumi pertiwi.

Tuhan, mohon perlindungan-Mu supaya kami tak jatuh dalam fanatisme yang membahayakan NKRI-Mu. Amin.


JUMAT BIASA XXIX B/2
26 Oktober 2018

Ef 4,1-6
Luk 12,54-59

Jumat Biasa XXIX A/1 2017: Galau Forever
Jumat Biasa XXIX C/2 2016: Asisten Garengpung
Jumat Biasa XXIX B/1 2015: Kangen Matahari

Jumat Biasa XXIX A/2 2014: Satu Iman Banyak Agama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s