Kaya Masuk Surga

Percayakah Anda pada predestinasi alias takdir? Kemarin kami omong soal Max Weber dan Etika Protestannya. Yang saya camkan ialah bahwa Gereja Protestan aliran Kalvinis yang diteliti Max Weber itu sudah tiada. Buktinya ialah bahwa di wilayah mayoritas warga beragama Protestan, masyarakatnya tak pernah beranjak dari kemiskinan. Saya lupa nama tempatnya, tetapi kira-kira di wilayah timur Indonesia. Jadi, tidak bisa disimpulkan seakan-akan Gereja Protestanlah penyebab kapitalisme. Memang etos kerja mereka jadi salah satu faktor, tetapi kapitalisme modern kemudian menggelinding sendiri.

Meskipun demikian, barangkali paham takdir Kalvinis tak bisa lenyap. Sebagian orang berkeyakinan bahwa Allah sudah menentukan orang diselamatkan bahkan sebelum kelahirannya di dunia ini. Jadi, orang tak berkutik untuk mendapatkan keselamatan karena keselamatan itu sepenuhnya dalam kontrol Allah. Akan tetapi, orang bisa tahu apakah ia ditakdirkan selamat atau tidak. Lewat apa? Lewat kemakmurannya. Kutipan dari Amsal bisa jadi rujukan: Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina. (Ams 22,29 ITB). Ini memicu etos yang memacu kerja keras untuk layak berdiri di hadapan raja-raja. Apakah etos ini buruk? Saya kira tidak, tetapi tak perlu dihubungkan dengan paham predestinasi tadi. Anda selamat bukan karena Anda kaya. Kekayaan Anda tidak membuktikan bahwa nama Anda ditakdirkan masuk surga, tetapi malah mungkin jadi barang bukti kapeka, eaaa…. saya yakin pembaca blog ini bukan suporter paham predestinasi. Dari teman Muslim saya juga belajar bahwa takdir itu cuma menyangkut kelahiran dan kematian.

Lha, tenggang waktu antara kelahiran dan kematian itulah yang jauh lebih penting dibahas. Teks bacaan hari ini kok ya ndelalahnya klop. Saya baru ngêh bahwa perumpamaan pohon ara ini begitu keras. Pemilik kebun tak berhasil mendapatkan buah darinya selama tiga tahun, maka ia meminta pengurus kebun untuk menebangnya. Percuma ia tumbuh tak berbuah. Akan tetapi, jawaban pengurus kebun itu membuka kemungkinan kenyataan lainnya: pohon ara itu bukan saja tak menghasilkan, melainkan juga membuat tanah tempat tumbuhnya jadi tak subur; atau mungkin lebih tepatnya, kesuburan tanah itu tak ada artinya bagi si pohon ara yang eksploitatif.

Perumpamaan itu dipakai Guru dari Nazareth untuk menggambarkan nasib orang yang tidak bertobat: dia bukannya cuma tak berbuah, bukan cuma miskin, melainkan juga mengeksploitasi sekelilingnya untuk dirinya sendiri. Itu keberatan saya kalau kekayaan dijadikan tolok ukur apakah orang selamat atau tidak. Kalau kekayaan itu berasal dari eksploitasi sekeliling dan tidak memberikan buah ke sekeliling, barangkali kekayaan itu mengantarnya ke surga, tetapi mungkin di tempat perbatasan dengan neraka. Tebusannya memang cuma satu: pertobatan. Kalau tak punya ide mengenai pertobatan yang terus menerus, silakan baca What do you mean by ‘conversion’? Kalau mau mengerti pertobatan lewat video orang muda yang sudah terinskripsi secara sosial (lebih menarik daripada dahi mengerut baca posting di sini), silakan simak klip berdurasi 44 menit Karin Novilda berikut ini.

Ya Allah, mohon rahmat pertobatan supaya kami tidak eksploitatif dan hidup kami berbuah bagi sekeliling. Amin.


SABTU BIASA XXIX B/2
27 Oktober 2018

Ef 4,7-16
Luk 13,1-9

Sabtu Biasa XXIX C/2 2016: Ekstremis Agama
Sabtu Biasa XXIX B/1 2015: Awas Kabut Azab
Sabtu Biasa XXIX A/2 2014: Kapan Kutukan Tuhan Terjadi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s