Know your sixth sense

Indra keenam, saya kira, sudah selalu dikonotasikan orang sebagai kemampuan extra sensory perception (ESP) dalam parapsikologi [apa maneh jal]: mendengar suara halus di kejauhan, melihat aura, makhluk halus, dan sebagainya. Akibatnya, kebanyakan orang beragama bahkan tidak sadar bahwa mereka sebetulnya punya indra keenam. Apa itu indra keenam orang beragama? Iman!

Saya masih terkesan pada apa yang kemarin saya tonton, orang muda dengan jutaan followers pada medsosnya. Sebetulnya beberapa tahun lalu saya pernah sebentar melihat klipnya karena dimintai tanggapan oleh mahasiswa, tetapi memang saya tak punya appetite untuk mengikuti klip itu sampai tuntas. Saya tak yakin bahwa pribadi dalam klip itu menampilkan dirinya secara autentik. Kalau betul itu jati dirinya, Karin oh Karin, betapa malang nasibmu (meskipun toh nasib malang nasib untung siapa yang tahu). Jebulnya, menurut penuturan di video kemarin tampaknya memang ada kontrak yang mengikat old Karin unyu-unyu dengan produsernya, sehingga kadang bisa bertingkah semata karena konsekuensi hukum dari kontraknya.

Barangkali penuturan new Karin itu bisa menerangi kisah yang disodorkan dalam teks bacaan hari ini. Old Karin itu seumpama orang buta yang mendengar kedatangan Guru dari Nazareth dan segera menanggalkan jubahnya untuk mendekati Sang Guru itu. Jubah orang buta itu, yang berfungsi untuk menutupi tubuhnya, dalam arti tertentu menjadi beban juga, seberapa pun ringannya. Bartimeus menanggalkannya, sebagaimana new Karin menanggalkan beban medsos yang rupanya malah menyumbang benih depresi dalam dirinya (obsesi mendapatkan jempol dari followers).

Ke manakah Bartimeus? Ke manakah new Karin? Srawung! Menjumpai orang, menjumpai Sang Guru. The sixth sense yang dimiliki dua tokoh ini mengantarkan mereka pada kesembuhan. Hidup new Karin dan new Bartimeus tak dikungkung lagi oleh jubah dan gawai. New Bartimeus menanggalkan jubahnya. Apakah new Karin menanggalkan gawainya? Tampaknya tidak, tetapi kelekatannya kepada gawai sudah lebih tertata. Maka, kalimat I quit Instagram tak perlu ditangkap secara literal bahwa ia berhenti dari medsos. Reorientasi medsos sudah lebih dari cukup karena bisa jadi reorientasi itu mengundang orang juga untuk srawung: dengan mereka yang mengalami kesusahan, tersingkir, lemah, dan seterusnya.

Srawung jenis itu memungkinkan orang mencicipi kebahagiaan yang sesungguhnya. Syaratnya bukan the sixth sense yang membuat orang mampu melihat atau mendengar yang bisa diendus oleh kirik, ular, burung hantu, dan sebagainya, melainkan the sixth sense yang ditanamkan Allah dalam hati, yaitu iman tadi. Indra keenam ini tak membuat orang risau apakah ia punya kemampuan melihat aura, melihat tuyul, mendengar suara roh leluhur atau tidak. Ini adalah the sixth sense yang memampukan orang memilah-milah mana yang gue banget dan mana yang tampaknya saja gue banget (ingat penuturan new Karin). The sixth sense ini membebaskan orang, menenangkan jiwa bahkan di tengah hantaman tragedi hidup. Tidak hanya itu, indra keenam ini lebih jauh mengundang orang keluar melampaui kepentingan egoistiknya yang menjerat para politisi sontoloyo, eaaaa kok keluar lagi. Dasar Romo sontoloyo!

Tuhan, tambahkanlah iman kami kepada-Mu supaya hidup kami lebih terarah kepada kebaikan bersama. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXX B/2
Hari Sumpah Pemuda
28 Oktober 2018

Yer 31,7-9
Ibr 5,1-6
Mrk 10,46-52

Posting 2015: Susahnya Jadi Nobody

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s