Jembatan Gratis

Seorang teman biasanya mengundang umat untuk berdiri dan membungkukkan badan setelah mendengar teks bacaan hari ini mengenai perempuan yang selama delapan belas tahun bungkuk. Maksudnya tentu untuk mengajak umat mencicipi bagaimana rasanya bungkuk selama setengah menit saja. Sayangnya, hari ini ia tak mengajak kami melakukannya, karena perut kami tak mengizinkannya, haaaaaaa…..

Memang ada baiknya membangun empati juga dengan cara sederhana. Kalau tidak, orang beragama bisa jatuh pada sikap seperti yang diusung oleh kubu sebelah #eh. Tak ada orang yang tertarik memperhatikan perempuan yang bungkuk belasan tahun ini. Perempuan ini bahkan tak bisa menatap orang yang bicara dengannya, dan dengan demikian, orang juga tak bisa menatap wajahnya. Perempuan bungkuk ini benar-benar seperti manusia tanpa wajah. Ia sendirian dalam drama hidupnya dan seakan menyerah, menerima kebungkukannya sebagai takdir.

Kerap terjadi sikap lèlèh luwèh (indifference) banyak orang mengondisikan seseorang menyerah terhadap hidupnya. Lebih dari itu, tak sedikit perempuan yang menanggung kekerasan atau penindasan dari mereka yang memiliki kekuasaan. Teks bacaan hari ini menunjukkan bagaiman kelompok penguasa itu memakai otoritas religius untuk menanggapi apa saja yang ada di sekelilingnya. Kata kubu sebelah,”Woeeee, ada enam hari untuk kerja; kamu bisa datang pada hari kerja itu untuk penyembuhan, jangan pada hari Sabat!”

Apakah itu hanya terjadi ribuan tahun lalu di Timur Tengah? Tentu tidak. Itu terjadi juga pada zaman ini di mana pun. Ancaman dengan otoritas religius memang bisa intimidatif dan penggunaan otoritas macam itu justru lebih dekat dengan kubu sebelah daripada kubu Guru dari Nazareth. Kalau kamu bunuh diri, tak akan kudoakan; kalau kamu terlibat terorisme dan kamu mati, tak akan kami terima jasadmu di sini; kalau kamu bersimpati pada LGBT, kamu bukan lagi Katolik, dan seterusnya. Pendekatan seperti ini hampir bisa dipastikan sebagai pendekatan korup yang tidak sungguh-sungguh menyentuh persoalan.

Guru dari Nazareth bisa jadi membungkukkan badannya untuk sekadar memandang perempuan bungkuk itu. Perempuan itu bisa jadi tak punya keberanian untuk memohon kesembuhan sebagaimana dilakukan oleh perempuan-perempuan lain. Guru dari Nazarethlah yang tergerak dan bergerak menjalin komunikasi dengan perempuan itu dan kesembuhan terjadi. Mereka yang tak tergerak dan bergerak tak bisa memahami peristiwa macam begini karena kerangka pendekatannya senantiasa kekuasaan. Kalau tak paham, tendensi orang yang berpendekatan kekuasaan ialah menuduh orang seperti Guru dari Nazareth ini sebagai orang yang cari muka, bahkan mungkin melihatnya sebagai gerakan politis yang merongrong kekuasaannya.

Masih segar ingatan Anda mengenai jembatan Suramadu yang digagas Soekarno, disikapi Soeharto, dibangun Megawati, diresmikan SBY, dan digratiskan Jokowi, bukan? Saya tak mau mengarahkan pilihan Anda, tetapi saya tak melupakan komentar bahwa jalan tol dan infrastruktur itu hanya menguntungkan orang bermobil, bukan karena itu komentar sontoloyo nan bodoh, melainkan karena kiranya komentar itu berasal dari hati orang yang tak tergerak dan bergerak membangun komunikasi dengan mereka yang secara ekonomi-politis jelas lemah. Begitulah pendekatan kekuasaan.

Tuhan, mohon rahmat supaya hati kami mudah tergerak dan bergerak demi kepentingan kemanusiaan bersama. Amin.


SENIN BIASA XXX B/2
29 Oktober 2018

Ef 4,32-5,8
Luk 13,10-17

Senin Biasa XXX A/1 2017: Mbok Sabar
Senin Biasa XXX C/2 2016: Semua Karena Cinta?
Senin Biasa XXX B/1 2015: Takut Kebebasan?

Senin Biasa XXX A/2 2014: Kebahagiaan Tanpa Objek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s