Micin Ganti Presiden

Kalau semua peristiwa tragis di negeri ini memarakkan tagar 2019 ganti presiden, memang kelihatan jelas bahwa gerakan tagar itu sungguh masif dan absurd. Di mana absurdnya? Di ambang batas kewarasan berpikir: bagaimana mungkin segala hal mesti ditautkan dengan presiden, kok bisa tragedi yang merenggut nyawa sekian ratus atau sekian ribu orang jadi corong oposisi untuk gerakan penggantian presiden?

Oposisi yang berkembang melawan presiden sekarang ini, yang prestasinya mendapat pujian dari mancanegara, bisa jadi membuat orang baik was-was dan orang boleh ragu apakah presiden metal ini bisa terus melanjutkan kerjanya sebagai presiden. Meskipun saya tak bisa mengatakan bahwa ini presiden ideal (namanya ideal ya adanya cuma dalam ide), saya benar-benar tidak menemukan alasan kuat untuk membatasi kerjanya sampai tahun depan. Sebaliknya, derasnya oposisi dengan tagar ganti presiden itu malah mencemaskan kemanusiaan karena tagar itu tak memuat empati bahkan simpati terhadap mereka yang mengalami tragedi (malah jadi komoditi).

Singkatnya, mampukah presiden metal yang kerempeng ini melawan gerakan absurd yang tak berempati? Apakah presiden ‘sontoloyo’ ini cukup kuat melawan dunia oposisi yang bertebaran dan berkelindan dengan problem-problem konkret yang memang bisa jadi juga muncul karena kelemahannya? Tentu jawabannya negatif. Presiden itu terlalu kecil untuk melawan sendirian kekuatan absurd oposisi yang bisa menjungkirbalikkan apa saja. Itu mengapa orang seperti Anda yang cinta NKRI semestinya membantunya supaya mampu melawan kekuatan absurd itu. Saya tak tahu caranya. Bisa saya cuma menulis blog, eaaaa.

Pertanyaan-pertanyaan tadi sesungguhnya paralel dengan pertanyaan mengenai kebaikan, Sabda Allah, kedamaian, kejujuran, surga, Kabar Gembira, Kerajaan Allah, dan seterusnya. Apakah Sabda-Nya itu tak terlalu lemah di hadapan dunia nan perkasa (kerap juga perkosa)? Apakah Sabda itu tak terlalu sederhana bagi dunia yang semakin lama semakin kompleks ini?

Teks hari ini menyodorkan dua metafora: biji sesawi dan ragi. Kebaikan sejati, Sabda Allah, keadilan, cinta, damai, belas kasih, yang hendak dinyatakan Allah itu dimulai dengan hal kecil nan sederhana seperti biji sesawi dan ragi itu.
Bukankah tagar ganti presiden itu juga kecil nan sederhana, Mo?
Betul sekali, Om, tapi tidak semua yang kecil nan sederhana adalah kebaikan sejati atau Kerajaan Allah atau keadilan dan seterusnya. Untuk memilah-milahnya, telusuri saja mana yang akrab dengan hoaks, itulah sontoloyo.

Maka dari itu, kalau mau menyokong NKRI, silakan memperjuangkan hal kecil nan sederhana yang jauh dari hoaks. Sabda Allah efektif jika diwartakan tanpa micin hoaks. Saya tidak mengatakan bahwa micin itu jelek, wong kenyataannya blog ini juga micin bagi Kitab Suci. Akan tetapi, memang bisa jadi Kitab Suci pun butuh micin supaya klop dengan cita rasa kemanusiaan. Hanya saja, ada micin yang keterlaluan sehingga malah mengaburkan Sabda Allah sesungguhnya dan kemanusiaan terancam. Saya berharap micin yang saya tawarkan ini tetap memungkinkan Anda bisa mencecap Sabda Allah itu: dengan memelihara ketulusan dan empati sebagaimana Allah juga berempati kepada umat-Nya. Jika itu terjadi, Sabda Allah sendiri perlahan-lahan akan mewujudkan diri.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat menumbuhkan empati kepada mereka yang mengalami tragedi. Amin.


SELASA BIASA XXX B/2
30 Oktober 2018

Ef 5,21-33
Luk 13,18-21

Selasa Biasa XXX A/1 2017: Agama Tempe
Selasa Biasa XXX C/2 2016: Tak Ada Selain Dirimu
Selasa Biasa XXX B/1 2015: Let It Go

5 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s