Celeng Kabeh

Teks bacaan hari ini menantang paham takdir mengenai keselamatan, yang saya singgung pada posting Kaya Masuk Surga beberapa hari lalu. Nuansa teks ini jelas: “Apa urusan Anda menanyakan hal itu?” Tiada gunanya orang tahu mengenai sedikit banyaknya orang yang diselamatkan selain untuk kepuasan kognitifnya. Anda tahu sendiri, kan, bagaimana orang yang kognisinya melesat tapi empatinya sesat? No action talk only. Masih mending kalau elemen kognitifnya waras. Kalau tidak, orang begini cuma waton muni (untuk tidak mengatakan waton njeplak).

Beberapa bulan lalu ada politisi sontoloyo yang berkicau begini: Saya mau ganti Presiden! Kalau demi itu saya harus bekerja sama dengan setan, saya akan lakukan. Apalagi cuma kerja sama dengan Prabowo. Anda tahu dong siapa yang mengatakannya, dari partai mana. Menurut penjelasannya pada tautan ini, kicauan itu ia buat untuk menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia tidak memiliki banyak pilihan dalam pilpres 2019. Silakan mempertimbangkan apakah kicauan itu memang berarti informasi bahwa Indonesia tak punya banyak pilihan atau ideologi menghalalkan segala cara (termasuk bersekutu dengan setan) demi tagar 2019 ganti presiden!

Oh, maaf, contohnya terlalu panjang. Kembali ke pertanyaan mengenai keselamatan tadi: orang bahkan tak perlu tahu apakah surga-neraka itu kosong atau sudah penuh. Lebih dalam lagi, Anda bahkan tak perlu bertanya-tanya apakah Anda masuk surga atau neraka. Anda sendiri yang memutuskan dan Anda tahu konsekuensi dari keputusan itu. Ini bukan soal keputusan berpindah agama (karena pindah agama pun bisa sangat politis dan strategis alih-alih sebagai upaya pertobatan), melainkan soal sikap keterlibatan terhadap keselamatan jiwa orang sendiri. Tak mengherankan, Guru dari Nazareth itu secara bijak menjawab,”Masuklah lewat pintu yang sempit itu. Banyak yang berusaha masuk tapi mungkin tak berhasil.” 

Apa yang kiranya membuat orang gagal masuk melewati pintu sempit itu? Anda tentu ingat cerita pendek A.A. Navis Robohnya Surau Kami yang menyodorkan sosok Haji Saleh yang rupanya keliru menafsirkan apa yang diridai Allah. Menjalankan perintah-Nya tidak bisa diidentikkan dengan aktivitas ritual yang dilepaskan dari konteks pergumulan hidup bersama. Jika teks hari ini dibandingkan dengan teks Matius, mungkin maksudnya lebih jelas: Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya. Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas (Mat 7,13-15 ITB).

Banyak orang berusaha membalut penampilannya dengan pekerjaan-pekerjaan berbau evangelisasi atau dakwah, tetapi bisa jadi kenyataannya sama sekali bertentangan, atau sasarannya adalah sesuatu yang lain. Ini sudah saya singgung pada posting Religitainment. Cuma satu cara masuk lewat pintu sempit itu: hidup dalam sabda-Nya (yang tak mungkin ditafsirkan sendirian, mesti selalu dialog dengan ‘yang lain’). Otherwise, jadinya cèlèng siji cèlèng kabèh seperti dilagukan oleh Encik Krisna pada tautan ini. Silakan tonton untuk refreshing sembari berharap supaya tidak ikut-ikutan jadi cèlèng.

Ya Allah, rengkuhlah kami dalam cinta-Mu selalu supaya kemanusiaan kami semua terangkat pada-Mu. Amin.


RABU BIASA XXX B/2
PW S. Alfonsus Rodriguez SJ
31 Oktober 2018

Ef 6,1-9
Luk 13,22-30

Rabu Biasa XXX C/2 2016: Yellow Box Junction 
Rabu Biasa XXX A/2 2014: Pentingnya Kepo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s