Pentingnya Kepo

Tampaknya reputasi kepo di planet ini memburuk dan orang cenderung menghindarkan diri dari atribut kepo. Barangkali banyak orang tak mengerti bagaimana menghadapi pertanyaan berbau kepo. Ada yang diam. Ada yang membungkam si penanya dengan menyebutnya kepo, tanpa memberikan jawaban.

Hari ini seseorang bertanya dengan rumusan kepo: sedikit sajakah yang diselamatkan? Entah apapun motivasi sang penanya, ia menyodorkan pertanyaan informatif yang muncul dari curiosity-nya: banyak atau sedikit. Pengen tauuuu aja!
Yesus tidak mendiamkan pertanyaan itu, tidak juga memberi atribut kepo pada si penanya. Ia menjawab pertanyaan, tetapi jawabannya tidak memuaskan rasa ingin tahu si penanya. Ia menuntun orang untuk melihat hubungan antara objek yang ditanyakan dan hidup si penanya sendiri. Maksudnya piye sih, Bray?

Mari pikir! Apa relevansinya kita tahu bahwa yang masuk surga itu nanti sedikit atau banyak? So what gituloh, kalau yang diselamatkan banyak atau sedikit? Si penanya berhenti pada info bagi otak belaka. Yesus mengajak orang untuk menata suara hatinya: entah banyak atau sedikit yang diselamatkan, itu tidaklah penting. Yang penting orang berusaha supaya ia masuk dalam bilangan yang sedikit atau banyak itu. Percuma, kan, tahu bahwa yang diselamatkan banyak tetapi nyatanya kita tidak masuk dalam bilangan yang banyak itu?

Pertanyaan kepo menjadi penting sejauh menghubungkan informasi yang dituntut otak nan curious dan tindakan iman seseorang. Pertanyaan macam ini tentulah tidak sibuk dengan apa yang ada di “luar sana”, tetapi dengan apa yang ada di “dalam sini” supaya bisa terlibat dengan yang di “luar sana” tadi.

Mungkin bisa dikatakan bahwa lebih baik kepo mengenai diri sendiri daripada mengenai orang lain. Kepo mengenai diri sendiri bisa membantu orang untuk semakin mengenal diri dan Tuhannya. Ini sama sekali tidak menyatakan bahwa kepo tentang sesuatu yang lain tidak penting! Orang toh harus menguasai ilmu pengetahuan sekepo-keponya, tapi pengetahuan itu tak banyak gunanya jika suara hatinya tak tertata. Dalam keadaan itu, kepo mengandung bahaya menjadikan orang lain sebagai objek gosip, bahkan menjadi objek kekuasaan.

Bacaan pertama mengundang umat beriman supaya berpatokan pada hukum Allah yang tertanam dalam hati masing-masing orang. Di satu sisi, anak perlu tunduk pada orang tua. Di lain sisi, orang tua perlu mendidik orang dalam kasih.


RABU BIASA XXX
29 Oktober 2014

Ef 6,1-9
Luk 13,22-30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s