Live Each Day

Bisa dimaklumi bahwa orang meyakini dua dunia karena keterbatasan indranya: dunia orang mati dan dunia orang hidup. Padahal, Allah adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati. Njuk gimana dunia orang mati itu dongmosok mereka tanpa Allah?

Minggu lalu, om saya, yang dulu saya ceritakan mengikhlaskan topi yang tertinggal di taksi, dalam doa menanyai Tuhannya, yang juga Tuhan saya, sampai kapan anak sulungnya menderita. Ia tak sampai hati melihat penderitaan anaknya. Tentu bukan hanya om saya, anggota keluarga yang lain juga maunya adik sepupu saya ini tidak menderita. Om saya seperti memohon Tuhan supaya kalau boleh, penderitaan anaknya diakhiri.

Sewaktu terakhir saya ketemu memang adik saya ini memanggil-manggil ‘simbok’, panggilan yang semula saya kira untuk ‘biyung’-nya atau buliknya yang sehari-hari merawatnya. Saya baru ngêh bahwa itu adalah panggilan untuk neneknya, yang beberapa hari sebelumnya genap setahun dipanggil Tuhan. Permohonan om saya seakan terkabul, adik saya mungkin dijemput nenek saya.

Saya tak bisa menyangkal kenyataan bahwa adik sepupu saya sudah mati, tetapi saya juga tak bisa meyakini bahwa ia dan neneknya tidak bersama Allah orang hidup. Njuk piyé sih?
Lha ya gak piyé-piyé: keterbatasan indra (fisik) memang bertendensi meyakinkan orang akan adanya dua dunia. Dunia sini yang kelihatan dan dunia sana yang gak keliatan. Hanya orang yang punya indra keenam yang melampaui keterbatasan indra itu. Sudah saya bilang kemarin-kemarin bahwa indra keenam orang beragama itu adalah iman.

Hanya dalam iman, orang mengerti bahwa kematian hanyalah transformasi hidup yang melepaskan kebertubuhan dengan segala kekuatan dan kerapuhannya. Itu mengapa Guru dari Nazareth itu menyebut bahagia orang yang miskin di hadapan Allah. Ini bukan soal seberapa banyak atau sedikit yang dimiliki orang dalam hidup ini, melainkan soal seberapa dalam ia hidup di hadirat Allah sedemikian sehingga ia tak terbebani oleh distingsi dunia sana-sini. Ia hidup dari waktu ke waktu seakan-akan ini adalah hari terakhirnya dan begitulah pesan yang saya dapat dari perayaan Gereja Katolik hari ini: Live each day as if it were your last.

Loh, Mo, bukannya Romo belum ujian komprehensif ya? Bukannya para orang tua masih butuh waktu mendidik anaknya? Bukankah presiden ini mesti melanjutkan satu periode lagi untuk menyelesaikan janji kampanyenya? Mosok menganggap hidup ini sebagai hari terakhir?
Hahaha, makanya tadi kan ungkapan bahasa Inggrisnya “Live each day as if it were your last”!

Kenyataannya ini bukan hari terakhir, tetapi apa daya, God knows! Hanya orang yang miskin di hadapan Allah yang bisa bersyukur setiap hari no matter what! Bahkan, kalaupun ini hari terakhir, karena bersekutu dengan para kudus, orang beriman mengakhirinya dengan syukur. Saya bersyukur pernah berziarah ke makam para wali songo dan boleh mengalami persekutuan dengan mereka dalam hidup di sini karena saya percaya bahwa roh yang menggerakkan hidup mereka senantiasa hadir hic et nunc.

Tuhan, mohon rahmat kesadaran untuk senantiasa hidup di hadirat-Mu bersama para kudus yang telah mendahului kami. Amin.


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
(Kamis Biasa XXX B/2)
1 November 2018

Why 7,2-4.9-14
1Yoh 3,1-3
Mat 5,1-12a

Posting 2017: Semua Orang dari Kudus
Posting 2016: Sudah
Happy?
 
Posting 2015: Tragedi Orang Kudus

Posting 2014: Menteri-menteri Nan Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s