Semua Orang dari Kudus

Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus dan mungkin cara berpikir kita sudah disusupi pertanyaan jurnalistik 5W+1H: apa, siapa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana. Saya tak akan masuk ke sana [bilang aja gak tau, Mo!], tetapi tetap menilik kata-kata di situ: semua orang kudus.

Frase ini mengingatkan saya bahwa setiap orang, apapun agama dan keyakinannya, diundang, dipanggil untuk berpartisipasi dalam “semua” tadi. Frase berpartisipasi dalam “semua” itu sendiri sudah bisa jadi problem karena orang bisa membayangkannya sebagai “berada bersama-sama”. Maklum juga toh kalau orang mau berpartisipasi dalam pemilu 2019 misalnya, sebagai pemilih ia mesti bersama-sama dengan pemilih lain untuk mencontreng [setdah, masih lama juga dah nyinggung-nyinggung 2019 aja; ya maap, kenyataannya ribut-ribut sekarang ini ya bisa jadi sebagai persiapan 2019 kok]. 

Berpartisipasi dalam “semua” tadi tak lain adalah bersama Allah. Orang itu kalau bersama Allah, ia pasti bersama semua. Ironisnya, tak sedikit orang mengklaim bersama Allah dan ‘menghabisi’ semua yang berbeda dari dirinya. Itu bukan hanya memprihatinkan, melainkan juga menjijikkan.

Orang kudus ialah pribadi (tua-muda, laki-perempuan dengan variannya, imam, pertapa, ulama, guru, murid, biarawan-biarawati, orang married, jomblo, dst) yang memancarkan, membagikan sifat-sifat Allah di tengah-tengah dunia. Ini tidak selalu berarti pribadi tanpa dosa-kelemahan, tetapi pribadi manusia biasa sungguh menggumuli sifat-sifat Allah tadi dan dengannya ia memberi kesaksian akan Allah itu. Tiap agama punya sosok pribadi macam ini dan Kristianitas mau tidak mau berpusat pada Yesus Kristus.

Bahwa kemudian dalam Gereja Katolik dilukiskan begitu banyak pribadi yang dikanonisasi sebagai orang kudus, itu tidak berarti hanya merekalah yang disebut para kudus itu. Mereka memang excellent tetapi anggapan bahwa mereka excellent itu sendiri mengandaikan adanya asumsi mengenai orientasi kepada arah tertentu yang rupanya berlaku bagi siapa saja. Panggilan kepada kekudusan itu memang berlaku bagi semua, untuk memberi makna kepada hidup yang serba profan ini dengan sakralitas dari Yang Transenden.

Kalau begitu, rahasia terbesar bagi orang beriman sebetulnya ialah kebahagiaan dalam hidupnya (karena kebahagiaan adalah momen pemaknaan hidup). Betapa mengerikannya melihat orang beragama yang hidupnya tidak bahagia. Ia tak bisa berpartisipasi dalam persekutuan dengan semua orang kudus tadi.

Jangan lupa bahagia!


HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS
(Rabu Biasa XXX A/1)
1 November 2017

Why 7,2-4.9-14
1Yoh 3,1-3
Mat 5,1-12a

Posting 2016: Sudah Happy? 
Posting 2015: Tragedi Orang Kudus

Posting 2014: Menteri-menteri Nan Suci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s