Don’t Run Away

Dengan segala hormat dan doa bagi para korban kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu, saya mengingat kisah penumpang yang terjebak kemacetan sehingga tak bisa ikut terbang bersama penumpang lain. Saya tidak hendak menempatkannya dalam konteks takdir atau kehendak Tuhan untuk mencabut nyawa ratusan penumpang dan meloloskan dua penumpang lainnya (mengapa Tuhan begitu pilih kasih?). Nasib untung, nasib malang, siapa tahu? Bergantung juga dari sudut pandangnya.

Peringatan arwah dalam tradisi Gereja Katolik hari ini, selain mengundang saya untuk mendoakan semua umat beriman yang sudah meninggal dunia, meyakinkan saya bahwa yang pokok dalam hidup ini bukan bahwa orang bernasib untung atau malang. Bagaimanapun orang berusaha mengejar untung, prestasi, juara, penghargaan, uang, mobil antik, ketrampilan langka, atau sekadar survival, hidup biologisnya bakal berhenti. Itu juga saya pelajari dari pahatan sarkofagus yang ada di museum seperti di bawah ini:

Ini lukisan mitologi Yunani tentang celeng Kalidonia yang punya kekuatan luar biasa. Celengnya di kanan bawah itu loh (bukan yang baca blog ini), dikeroyok anjing dan para pemburu, yang adalah representasi tokoh-tokoh jagoan seperti Atalanta, Castor, Pollux, Ida, Linceo. Katanya, celeng itu makan dari biji pohon ek yang disuplai oleh Yupiter sehingga ia jadi begitu perkasa. Akan tetapi, sehebat atau sekuat apapun makhluk itu dalam survivalnya, bagaimanapun berprestasinya, kematian biologis itu akan datang juga saatnya.

Gambaran itu sebetulnya menunjukkan tegangan antara kehendak untuk hidup seribu tahun lagi dan ‘takdir biologis’ (kematian) yang bisa menghabisi kehendak itu. Orang waras perlu sadar akan hal ini, menerimanya baik-baik sehingga bisa menjalani hidup baik-baik pula. Hidup baik-baik yang gimana Mo? Hidup yang berguna, yang bukan asal waton lari dari kematian, yang bukan waton lari dari kenyataan. Keduanya cuma menunda kebaikan yang berpijak pada suatu azas dan dasar hidup untuk memuliakan Allah. Ha nèk penundaan itu berlangsung sampai ‘takdir biologis’ tiba, mboh gimana jadinya jiwa penunda itu; mungkin juga perjumpaannya dengan Si Empunya Jiwa jadi tertunda.

Akan tetapi, mengenai hal itu, mau berspekulasi apakah saya? Bahkan kalau penundaan perjumpaan dengan Allah itu terjadi melalui neraka atau api penyucian, saya tak berubah keyakinan: entah masuk neraka atau surga, mereka tetaplah berhadapan dengan cinta Allah sendiri. Saya merasa tak perlu tertipu propaganda bahwa kalau selama hidupnya orang bawel njuk setelah mati kena azab mulutnya tak bisa terkatup, dan seterusnya. Bagaimana cinta Allah di balik pintu kematian, saya benar-benar buta tetapi kebutaan itu tak perlu menggoyahkan keyakinan bahwa jiwa peziarah cinta Allah tak dihentikan oleh kematian, neraka, atau surga.

Pada kesempatan yang baik ini marilah berdoa untuk seluruh arwah umat beriman, apapun agamanya, supaya cinta Allah senantiasa meraja sehingga jiwa-jiwa itu, di mana pun, mengalami kebahagiaan. Semoga semua makhluk berbahagia. Amin.


PENGENANGAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN
(Jumat Biasa XXX B/2)
2 November 2018

2Mak 12,43-46
1Kor 15,12-34

Yoh 6,37-40

Posting 2017: Arwah Orang Hidup
Posting 2016: Doa Arwah, hiii…

Posting 2015: Cuci Jiwa Gratis

Posting 2014: Di Mana Arwah Umat Beriman Itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s