Cara Mati Sia-sia

Siapakah orang yang bisa mengatakan hidup baginya berarti (demi) Tuhan dan mati adalah keuntungan? Namanya Paulus (tapi teroris beratribut agama bisa juga sih mengatakannya). Kata teman saya, yang penting bukan hidup atau matinya. Tak ada gunanya hidup kalau tak bermanfaat bagi kebesaran Allah, begitu pula kematian yang sia-sia. Kematian disebut sia-sia jika kehidupannya tak bermanfaat bagi kebesaran Allah tadi.

Hari ini saya mau mengeluarkan uneg-uneg berkenaan dengan kesia-siaan itu. Pertama, kemarin saya memilih kebaktian sore, lupa bahwa itu Jumat Pertama yang biasanya jumlah umat jauh lebih banyak dari biasanya. Bisa jadi orang datang bukan karena mau merayakan ibadatnya, melainkan karena Jumat Pertama-nya.

Kedua, malam harinya saya ditanyai kalau-kalau saya bisa memimpin misa berbahasa Latin. Dengan tegas saya menjawab,”Tidak akan pernah.” Loh, kenapa? Bukannya romo diajari bahasa Latin ya? Betul, dan ini ungkapan Latin yang saya pegang: nemo dat quod non habet. Artinya, tak seorang pun memberikan sesuatu yang tak dimilikinya. Saya tidak pernah hidup dalam ambience dunia Latin (saya lahir tahun 80-an, percaya gak eaaaa), dan misa berbahasa Latin itu tamat setelah Konsili Vatikan II tahun 60-an. Paus Benediktus XVI membuka peluang untuk misa extraordinaria (di luar yang biasa) di awal abad ini, tetapi sebagian orang mengira bahwa itu berarti bisa saja mengganti misa biasa dengan misa bahasa Latin. Bisa, dan itu jadi misa yang sia-sia.

Mohon tidak salah paham. Saya tidak anti misa extraordinaria. Saya cuma jujur bahwa itu bukan gue banget. Yang gue banget ialah misa yang lebih dari sekadar ritual, misa yang memungkinkan orang terlibat, misa yang menggerakkan orang-orangnya bersyukur bersama alih-alih ribut dengan pakaian, dandanan, handphone, atau aturan ritualnya. Mungkinkah orang terlibat dan bersyukur kalau orang tak paham apa yang diucapkan, didaraskan, ditindakkan? Kalau orang memaksakan diri berdoa dengan bahasa asing yang tak terpahaminya, itu indikasi bahwa orang jatuh pada ritualisme dan Anda tahu bahwa blog ini berseberangan dengan ritualisme.

Dalam ritualisme, akan Anda jumpai birokrasi dengan segala pernak-perniknya: pemimpin, rumusan, peralatan, posisi, dan sebagainya. Loh, bukankah semua ibadat mesti ada itu semua Mo? Ya persis itulah. Dalam ritualisme, yang dipentingkan adalah pernak-perniknya itu alih-alih tujuannya. Asal sudah ikutan Jumat Pertama, asal sudah shalat lima waktu, asal sudah ke gereja, asal sudah hafal rumusan, dan sebagainya. Orang berpuas diri dengan bentuk, struktur, tatanan, tapi abai dengan relasi intimnya sendiri dengan Allah dan sesama. Itu tak lain dari arogansi cari kehormatan.

Tak usah jauh-jauh omong soal HTI sebagai ancaman NKRI, benihnya tetap ada dalam diri pemuja ritualisme yang berpikir bahwa Allah berkenan kepada ritual mereka dan tidak kepada yang berbeda.
Loh, bukannya Romo juga berpikir bahwa Allah berkenan kepada Romo (yang berseberangan dengan ritualisme) dan tidak berkenan kepada pemuja ritualisme?
Oh, bukan. Saya cuma waspada bahwa memuja ritualisme itu mengaburkan relasi jujur orang beriman dengan Allah dan sesamanya.

Tuhan, mohon rahmat kejujuran dan kebijaksanaan supaya kami mengerti mana yang penting bagi hidup di hadirat-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXX B/2
3 November 2018

Flp 1,18b-26
Luk 14,1.7-11

Sabtu Biasa XXX A/1 2017: The Power of Humility
Sabtu Biasa XXX C/2 2016: Cinta Itu Rendah Hati
Sabtu Biasa XXX B/1 2015: Bukan Ilmu Padi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s