Ngajari Doa atau Ritual

Kalau mengikuti seluruh posting dalam blog ini, Anda tahu orang macam apa yang layak dipilih sebagai presiden NKRI tahun depan, yaitu yang empat tahun lalu terpilih sebagai presiden RI. Apakah capres lainnya tak layak dipilih? Tentu saja layak, cuma Anda kan sekarang sudah tahu apa bedanya cina tulen dan cina asli (itu adalah candaan orang cina yang sudah dewasa menerima etnisitasnya dengan segala kompleksitasnya). Jadi, tetap saja Anda perlu memilih mana yang lebih dan itu tidak mengatakan bahwa yang kurang itu “tidak layak”.

Teks bacaan hari ini menyajikan narasi kecil bagaimana guru dari Nazareth itu memilih murid-muridnya. Jumlahnya dua belas. Apakah cuma dua belas orang itu yang layak jadi murid guru dari Nazareth? Jelas tidaklah, kan tadi sudah saya bilang bahwa tidak dipilih itu tidak sama dengan tidak layak. Ini cuma problem angka yang begitu teknis. Si guru cuma memilih dua belas, itu pun mungkin juga cuma simbol representasi dua belas suku Israel. Anda bayangkanlah jadi dosen dan mengajar 100 mahasiswa dalam satu kelas dan bandingkanlah dengan mengajar 20 mahasiswa. Entah Anda pilih yang mana, saya sih pilih 20 mahasiswa. 

Jadi, bisa saja dua belas murid itu sama sekali tidak lebih qualified daripada orang-orang lain di sekeliling guru dari Nazareth itu, tetapi pada kenyataannya, dua belas murid itulah yang dipilihnya. Yang menarik saya saat ini masih tetap proses bagaimana guru itu memilih dua belas muridnya. Diawali dengan doa. Sekali lagi, doa!

Seorang pemimpin agama Yahudi modern yang bernama Abraham Joshua Heschel menengarai bahwa orang sekarang mengalami krisis doa dan krisis ini berkenaan dengan jiwanya. Orang butuh revisi internal, hati yang baru. Hanya revolusi spirituallah yang bisa menghindarkan doa dari pelupaan). Saya tidak kenal Heschel ini tetapi saya yakin yang dia maksudkan sebagai revisi internal itu adanya di hati. Maka dari itu, bahkan doa pun, kalau mau ditularkan sebagai tradisi yang baik supaya tak terlupakan, mesti dihubungkan pertama-tama dengan revisi hati, kesadaran orang sendiri akan hidup yang sakral juga dalam dunia sekular.

Saya memang memendam kecurigaan bahwa di dalam lingkup hidup keagamaan, tradisi doa itu ditularkan dari generasi ke generasi tanpa hati. Maksudnya, ritualnya ditularkan, bahkan yang dulu sudah dianggap usang bisa saja dimunculkan kembali, tetapi hatinya sudah beku oleh ritualisme itu sendiri. Bayangkanlah Anda diajari cara doa dengan gerak tubuh berdiri, membungkuk, berlutut, bersujud dengan aneka formula. Dalam waktu singkat Anda bisa menguasainya dengan mudah. Itu cuma ritualnya, caranya, bentuknya; tetapi yang jauh lebih penting dari itu justru adalah sikap hati dan budi Anda sendiri. Selama itu tak terarah pada panggilan Allah yang mencintai semua makhluk-Nya, Anda jatuh pada ritualisme dan mengeksklusikan yang lain.

Bukankah orang bisa menjalankan ritualnya baik-baik tetapi hati dan budinya disusupi rencana busuk memanipulasi orang lain? Bisa. Orang yang sungguh berdoa, sebaliknya, sadar bagaimana pikiran jahat bisa memanipulasi ritualnya dan lebih dari itu, ia membersihkannya dari dalam hati dan budinya karena memang itulah hakikat doa: supaya hatinya direvisi dengan Sabda Allah sendiri.


SELASA BIASA XXIII B/2
11 September 2018

1Kor 6,1-11
Luk 6,12-19

Selasa Biasa XXIII A/1 2017: Doa Filsuf
Selasa Biasa XXIII C/2 2016: Pemandu Bakat
Selasa Biasa XXIII A/2 2014: Pengikut Kristus Gak Mutu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s