Doa Filsuf

Kok ya ndelalahnya klop lagi ya teks hari ini dan pe er yang saya garap: Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia. Itu dari bacaan pertama dan klopnya memang pe er saya memang pe er filsafat [gek-gek saya ini salah jurusan ya]. Apakah filsafat kosong dan palsu? Ya bergantung melihatnya juga sih. Sebagian teman mengeluh puyeng karena serba spekulatif, sementara dia sendiri aktivis. Jam pintar saya pun mendeteksi saya dalam keadaan mild fatigue (ya meskipun cuma berarti kurang tidur aja sih#halahberdalih).

Filsafat yang kosong dan palsu itu apa toh maksudnya? Mengapa Paulus bilang begitu ya? Dia sendiri memang guru filsafat sepertinya tetapi pasti dia tidak mempelajari pemikiran orang sebangsa Descartes, David Hume, Immanuel Kant dan seterusnya. Jadi, kemungkinan filsafat yang dia ketahui cuma sebatas filsafat Yunani. Saya tak tahu apa yang dimaksud Paulus dengan filsafat kosong dan palsu itu. Mungkin filsafat yang dikembangkan Epicurus yang menyasar cita-cita orang mengejar kesenangan dan menghindari derita. Entahlah, saya waktu itu belum belajar filsafat.

Entah apapun itu, Paulus pasti tidak hendak mengecam filsafat yang berkembang sesudahnya, yang memungkinkan blog ini eksis. Sebetulnya tanpa kata filsafat bisa juga disampaikan Paulus, tetapi kalau memang disinggung filsafat kosong dan palsu itu berarti memang saat itu beredar ajaran-ajaran filsafat yang ngoyoworo dan malah menyesatkan orang beriman. Filsafat macam begini ini nih yang dikritik Paulus sebagai sesat pikir yang bisa menjerumuskan orang yang percaya kepada Tuhan. Hidup yang senantiasa mencari kebenaran tak bisa dilandaskan pada filsafat macam begitu itu.

Njuk gimana? Ya ikuti salah satu poin pada bacaan kedua saja. Kata tetangga saya, entah besar entah kecil keputusan yang akan diambil, baiklah orang menyempatkan diri untuk berdoa. Apakah dengan doa njuk orang dapat wangsit? Ya mboh. Apakah setelah berdoa trus orang bisa mengambil keputusan tanpa cacat? Wandha’ tau ya. Apakah doa semalam-malaman itu membuat si pendoa jadi sakti mandraguna? Entahlah.

Yang pasti, kalau orang berdoa, itu sudah diasumsikan bahwa ia merendahkan dirinya sebagai agen yang tak bisa berkuasa penuh atas hidup ini dan dalam arti tertentu ia mengakui ada peran ‘liyan’ dalam hidupnya. Sikap ini malah lebih membawa ketenangan dan orang bisa fokus mengambil keputusan dengan dibebaskan dari aneka ketakutan dan kekhawatiran hidup.
Njuk doa filsufnya mana je, Mo? Mbohwis ngantuk.

Ya Allah, semoga kami senantiasa merelakan hidup kami yang sepenuhnya ada di tangan-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXIII A/1
12 September 2017

Kol 2,6-15
Luk 6,12-19

Selasa Biasa XXIII C/2 2016: Pemandu Bakat
Selasa Biasa XXIII A/2 2014: Pengikut Kristus Gak Mutu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s