Seberapa Rasional

Ndelalahnya sewaktu teks hari ini disodorkan, pekerjaan rumah saya juga berkenaan dengan sosok manusia yang menjadi pusat perhatian. Teks hari ini kan cerita soal orang yang lumpuh tangan kanannya dan Yesus malah memintanya berdiri di tengah-tengah mereka. Tentu ini bukan soal dia mengambil titik tengah dari kerumunan orang yang sedang berkumpul membentuk lingkaran. Pokoknya, orang yang tangan kanannya sakit (sehingga tak bisa bekerja, entah dilarang bekerja pada hari Sabat atau tidak) itu jadi pusat perhatian. Siapa yang memperhatikan? Ya orang-orang yang ada di situlah, tetapi juga termasuk pembaca teks sekarang ini.

Pembaca tinggal memilih saja mau memperhatikan dengan sudut pandang Yesus yang meminta orang lumpuh tangan kanannya itu berdiri di tengah atau dengan perspektif ahli-ahli Kitab Suci dan kaum Farisi yang hendak menantikan Yesus melakukan kesalahan (lagi) pada hari Sabat. Pe eR saya berkenaan dengan Bapak Filsafat Modern yang terkenal dengan ungkapan Cogito ergo sum (bacanya: kojito ergo sum). Tapi tak usah ikut mengerjakan pe er. Pokoknya, adegan dalam teks hari ini mirip-mirip dengan upaya filsuf modern itu untuk menempatkan manusia sebagai pusat referensi pengetahuan: bukan karena kemampuan pengamatan indrawinya (melihat, mendengar, dan seterusnya), melainkan karena rasionalitasnya. Tentu tak sesederhana itu pemikiran sang filsuf modern itu.

Akan tetapi, untuk kepentingan refleksi hari ini, cukuplah dipertimbangkan kembali: rasionalitas macam apakah yang dipelihara atau dikembangkan orang beriman? Semoga bukan perspektif yang dipakai para ahli Kitab Suci dan kaum Farisi yang menantikan blunder Yesus, perspektif yang tak terpakai oleh orang-orang yang mencari kebenaran dan kebijaksanaan hidup. Memang sih, dalam lingkup dinamika politik, bisa jadi orang mesti menunggu sampai pihak oposisi melakukan kesalahan sehingga penguasa punya alasan untuk menindak secara hukum. Akan tetapi, penguasa yang baik kiranya lebih memberi prioritas supaya pihak oposisi ini mendapatkan hidayah demi kebaikan dan kesejahteraan umum. Kiranya begitulah penguasa yang rasional. Kalau tidak begitu, jadinya ya malah seperti dulu selama tiga dekade, semua jadi sableng dengan hari-hari omong kosong dan tanpa disadari orang memberikan diri dijajah oleh bangsa sendiri.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami dapat berfokus pada upaya untuk memperjuangkan kebaikan umum di atas agenda pribadi kami sendiri. Amin.


HARI SENIN BIASA XXIII A/1
11 September 2017

Kol 1,24-2,3
Luk 6,6-11

Senin Biasa XXIII C/2 2016: Provokator
Senin Biasa XXIII B/1 2015: #Kemanusiaan Yang Terdampar

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s