Dosa Tuhan

Kenapa teks hari ini menyarankan kalau orang lain berdosa kok kita mesti menegurnya dengan prosedur-prosedur tertentu (empat mata, enam-delapan mata, dan banyak mata)? Bukankah dosa itu urusan dengan Tuhan? Bukankah kategori dosa itu adanya cuma dalam kerangka ‘agama’ yang hendak membawa manusia dalam relasinya dengan Tuhan? Jadi, biar saja toh orang berdosa, biar dia urus sendiri bisnisnya dengan Tuhan itu?!

Akan tetapi, di lain pihak, kalau orang berdosa, itu sebetulnya siapa toh yang dirugikan? Allahkah atau manusia sendiri? Nilai apa yang digoncangkan oleh dosa itu, nilai surgawi atau duniawi?

Ternyata ya dosa itu pertama-tama melukai nilai-nilai kemanusiaan sendiri. Kalau dalam suatu masyarakat orang-orangnya menaruh kecurigaan satu sama lain, saling membunuh, membuat fitnah, dan sebagainya, Tuhannya ya gak ngapa-ngapain, tidak seperti dalam refleksi penulis Kitab Suci dulu bahwa Tuhan akan menghancurkan kota dengan hujan belerang maupun api. Tuhan mah tinggal duduk manis menonton kehancuran manusia sendiri oleh aneka rupa kejahatannya.

Saya sepakat dengan tinjauan Gregory Baum (lah kok malah jadi book report?) bahwa jika kritik Feuerbach terhadap agama dicermati baik-baik, malah terkuaklah kekuatan tersembunyi dalam kemanusiaan: It was the task of Enlightenment to make people aware that the magnificent world of religion did not speak of God but of man. Agama yang dihidupi baik-baik justru gak ribut dengan bagaimana Allah menjadi baperan, tetapi bagaimana manusia menjadi toleran, yang maksudnya sudah dikritisi dalam posting terdahulu: bukan membiarkan kekeliruan orang lain, melainkan menghargai perbedaan jalan orang lain untuk menggapai kebenaran universal.

Karena itu, menegur orang lain yang berdosa bukanlah tindakan merebut urusan Allah, melainkan tindakan solidaritas supaya kemanusiaan itu bisa dibangun bersama-sama. Kalau orang tetap tinggal dalam dosa (yang juga perlu dirembug dengan kategori kemanusiaan, bukan melulu omong-omong suci) meskipun sudah diajak berdiskusi baik-baik, ya biarkan ‘alam’ mengambil tindakan sendiri, haha…

Ya Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaanmu supaya kami semakin mengerti keindahan manusia ciptaan-Mu yang senantiasa terus menerus kami upayakan supaya terwujud. Amin.


MINGGU BIASA XXIII A/1
10 September 2017

Yeh 33,7-9
Rm 13,8-10
Mat 18,15-20

Posting Tahun 2014: Tsunami Warning

1 reply

  1. Membedakan kategori kemanusian dengan omong-omong suci itu yang sulit Mo. Kadang-kadang kita malah terjebak dalam omong-omong suci ketimbang memperhatikan kemanusiaan. Mohon pencerahannya Mo. Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s