Lampu Hazard

Hukum dibuat untuk manusia, demikian pula perlakuan terhadap hukum itu: untuk menindas manusia lain atau untuk membangun kemanusiaan. Kerangka sarana-tujuan ini barangkali tidak akrab dalam hati orang-orang munafik yang bertopengkan agama. Makanya, kalau dibuatkan rancangan hukum sebaik apapun, orang-orang begini ini, begitu nemu celah ya langsung santlap. Kalau tidak nemu pun tetap akan cari cara supaya dirinya tetap menonjol, tak perlu pikir keselamatan bersama.

Saya tidak tahu sejak kapan orang mulai menggunakan lampu hazard di persimpangan jalan. Mau komplain kepada polisi juga gimana, lha wong kemarin juga melihat truk berplat polisi menyalakan lampu hazard, padahal ya bukan kondisi perang juga [lha nek perang malah jangan menyalakan lampu, ntar ketahuan). Saya sih tidak melihat adanya larangan untuk menyalakan lampu hazard dalam rumusan UU No. 22 Tahun 2009 tentang LLAJ. Di situ cuma dikatakan bahwa kendaraan yang berhenti atau parkir darurat di jalan wajib menyalakan lampu hazard. Baru minggu lalu saya jumpai pengendara motor menabrak mobil bak yang parkir di pinggir jalan, setengah badan mobilnya ada di jalan. Memang pengendara motor itu salah, tetapi yang parkir di pinggir jalan itu juga cuma mikir dirinya sendiri!

Jadi, meskipun tidak ada larangan menyalakan lampu hazard di perempatan jalan, apakah njuk common sense manusia itu hilang ya? Coba mari pikir sejenak. Untuk apa orang menyalakan lampu sein kiri? Untuk memberi tanda bahwa kendaraannya hendak berbelok ke kiri [orangnya boleh ke kanan]. Begitu pula orang menyalakan lampu sein kanan, tentu maksudnya untuk menandakan bahwa ia hendak membelokkan kendaraannya ke kanan. Nah, kalau tidak belok ke kiri dan tidak belok ke kanan, alias jalan lurus, ngapain menyalakan lampu hazard, jal? Kata humas Mabes Polri, mbok dalam mengemudi itu cerdas gituloh, haha…

Kemarin malah saya jumpai pengendara yang lebih cerdas lagi: lampu seinnya itu bisa bergantian menyala antara kiri dan kanan. Iki ki arep pamer lampu disko atau ujian naik motor zigzag ya? Tapi tenang saja, saya tidak marah kok, cuma saya balap motor itu dan di depannya saya pameri lampu hazard, hahaha… wis podho sablèngé… guyon di jalan raya! Mohon hati-hati dengan lampu hazard, bisa jadi hati kita yang perlu diberi lampu hazard.

Ya Tuhan, ketuklah hati kami supaya kami semakin peduli juga pada keselamatan orang lain. Amin.


HARI SABTU BIASA XXII A/1
9 September 2017

Kol 1,21-23
Luk 6,1-5

Sabtu Biasa XXII C/2 2016: Full Day’s Work
Sabtu Biasa XXII B/1 2015: Kebugaran Rohani
Sabtu Biasa XXII A/2 2014: Awas Jangan Salah Tekan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s