Full Day’s Work

Sebagaimana lilin meleleh karena mendekati api, begitu juga jiwa kosong karena mencari pujian-diri. Ironisnya, jiwa terisi justru dengan jalan kerendahan hati, yang menuntun orang pada penerimaan diri sebagai ciptaan. Meskipun manusia diundang sebagai co-worker Pencipta, dan dengan demikian bisa ikut jadi creator, pada dasarnya ia adalah creature, (makhluk) ciptaan. Maka, apapun yang dimiliki manusia, sesungguhnya tak bisa diklaim sebagai miliknya sendiri. Celakanya, alih-alih mengambil jalan kerendahan hati, manusia punya tendensi mencari jalan pujian-diri tadi yang hendak menyilapkan perhatian orang lain pada si pemilik kehidupan ini.

Orang macam itu mungkin dengan berat hati mengikuti program tax amnesty, dan lebih berat lagi mendeclare apa saja yang diklaim sebagai capaian dirinya semata, lha wong hampir semua dianggapnya sebagai buah kehebatan dirinya. Bisa juga ia berkata-kata manis bahwa semua yang dijalaninya ialah semata demi kemuliaan Tuhan, tetapi perilakunya begitu pahit karena lagi-lagi mau mencari pujian-diri lebih daripada ketulusan yang membebaskan hati orang untuk menjumpai Pencipta Agungnya. Orang macam ini lebih krasan dengan belenggu daripada kebebasan yang dianugerahkan Tuhan.

Hari Sabat sangatlah sentral dalam tradisi Yahudi. Ini salah satu dari Sepuluh Perintah Allah, hukum yang sangat kuno yang muncul pada sekitar masa pembuangan bangsa itu. Betapa tidak, mereka di Mesir mesti bekerja tujuh hari seminggu dari pagi sampai sore. Full day school & work! Njuk kapan kumpul-kumpul untuk mengelola hati, menata batin, mengasah interiority kalau seluruh waktu dihabiskan untuk proyek kerja-kerja-kerja? Kapan ada waktu untuk doa bersama, sharing of faith, diskusi aneka problem dan harapan kalau semua waktu dipakai untuk kerja fisik, bahkan waktu istirahat pun diberikan supaya esok harinya bisa kerja rodi?

Itu mengapa muncul kesadaran akan perlunya hari saat mereka berhenti dari rutinitas, sekurang-kurangnya sehari, untuk saling meneguhkan dalam masa susah itu. Kalau tidak, mereka mestinya kehilangan iman dan takkan berbeda jauh dari bangsa penjajah mereka yang adalah kafir dan ucapan syukur mereka ditujukan pada ideologi yang dipersonifikasikan pada dewa-dewi ciptaan mereka sendiri. Hormatilah hari Tuhan. Itulah perintah yang diadopsi oleh Gereja Katolik. Tentu saja, tidak hanya bagi orang Yahudi, juga bagi orang Katolik, perintah itu bisa kehilangan rohnya ketika titik tolaknya bukan dari interiority, dari hati, dari relasi pribadi dengan Allah.

Titik tolak pertanyaan orang Farisi bukan dari interiority: “Kenapa kamu gak ngikuti rubrik sih? Mau cari muka? Mau cari sensasi? Mau asal beda?” Ia sulit melontarkan pertanyaan dari hati, persis karena hatinya sudah terlekat pada aneka macam tuntutan full day’s work itu: harus gini, harus gitu, harus gini, harus gitu, harus gini, harus gitu….

Tuhan, mohon rahmat supaya batin kami senantiasa tertambat pada-Mu juga dalam kesibukan yang memuncak. Amin.


SABTU BIASA XXII
Peringatan Wajib S. Gregorius Agung
3 September 2016

1Kor 4,6b-15
Luk 6,1-5

Posting Sabtu Biasa XXII B/1 Tahun 2015: Kebugaran Rohani
Posting Sabtu Biasa XXII Tahun 2014: Awas, Jangan Salah Tekan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s