Namanya Maria

Mungkin lebih gampang mempelajari jalur asal-usul atau genealogi Yesus daripada genealogi agama, gak pake pe’ er weekly response segala, haha… curcol maba 2017. Meskipun demikian, sepertinya gak nyambung juga ini genealogi yang disodorkan pada teks hari ini karena tokoh utama yang mau dijelaskan adalah Yesus, padahal ini dipakai untuk merayakan ulang tahun Maria. Lha kok malah bukannya diambil teks yang mengisahkan asal-usul keluarga Maria, kalau memang tidak ada cerita mengenai kelahiran Maria? Kok yang diceritakan malah asal-usul Yusuf dan Maria cuma ditempelkan di situ sebagai istri Yusuf?

Lha ya memang gak ada kok tulisan mengenai keluarga Maria ini. Akan tetapi, persoalannya juga bukan teknis begitu, melainkan teologis. Kan kemarin saya dah bilang (kapan?) bahwa penulis Kitab Suci itu bukan penulis teks sejarah. Ini adalah refleksi iman terhadap kehidupan yang dianugerahkan Allah. Oleh karena itu, pasti bukan pertama-tama ulang tahunnya Maria yang penting, melainkan ada hal lain yang bisa terungkap yang lebih bersifat teologis. Apakah itu?

Silsilah dimulai dari Abraham (kenapa kok gak dari Adam, hayo?), yang kepadanya dijanjikan bangsa yang besar. Siapa yang janji? Tuhan. Janji itu terus diturunkan sampai ujung-ujungnya, dari garis Abraham itu, ialah Yusuf. Nah, setelah itu diberilah keterangan sisipan: suami Maria. Siapa Maria ini? Mboh. Mungkin juga kalau ditelusur jatuhnya ke Abraham juga, mungkin, mungkin, mungkin. Pokoknya, itu bukan poinnya. Njuk apa sih? Sabar ya, silakan scroll down.

Dari genealogi itu kelihatan bahwa pemenuhan janji Allah kepada Abraham, jebulnya terhubungkan dengan Maria, yang tidak dikisahkan berhubungan darah dengan keturunan Abraham. Apa yang menghubungkan janji Allah itu dengan pemenuhannya? Harapan dan iman! Harapan dan iman siapa? Ya Yusuf dan Maria itu toh!

Jadi, adalah lebih bermanfaat merealisasikan janji Allah itu dalam harapan dan iman akan Allah daripada sibuk mencari legitimasi bahwa saya ini benar-benar keturunan Ki Ageng Sela, misalnya. Begitu kura-kura #ehikut-ikut. Janji solidaritas Allah terpenuhi sejauh orang-orangnya memelihara harapan dan iman kepada Allah yang menyelamatkan itu. Maria nimbrung dalam pemeliharaan harapan dan iman itu bersama Yusuf.

Pada kenyataannya, adalah lebih membahagiakan hati bila orang lebih berfokus pada penerusan janji Allah itu daripada ngotot dengan primordialisme hubungan darah atau mungkin agama. Apa dumeh atau mentang-mentang punya hubungan darah atau seagama njuk otomatis punya harapan dan iman yang sama untuk merealisasikan Allah yang maharahim itu po? Keknya gak segitunya deh. Maka gerakan bela Rohingnya itu juga barangkali perlu ditinjau ulang [lha siapa juga mau meninjau ulang? Wis cetha]. Kok ya seakan-akan tahu benar Rohingnya itu seperti apa dan asal punya label serupa njuk solidaritas membabi buta gitukah?

Ya Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya bangsa kami tak terkoyak oleh isu-isu primordial dan berilah kekuatan kepada para pengemban tugas pelayanan negara ini supaya makin mantap. Amin.


PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
(Jumat Biasa XXII A/1)
8 September 2017

Mi 5,1-4
Mat 1,1-16.18-23

Posting Tahun Lalu: Muter-muter Doang 
Posting Tahun 2015: Buon Compleanno, Maria

Posting Tahun 2014: The Art of Seeing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s