Panggilan Berbasis Inkompetensi

Bukan karena kebaikanmu, bukan karena fasih lidahmu, bukan karena kekayaanmu, bukan karena kecakapanmu, bukan karena baik rupamu, bukan karena kelebihanmu… kau dipanggil, dipilih, dipakai…

Itu penggalan lirik lagu Nikita yang menunjukkan satu sisi kehidupan umat beriman. Judulnya “Semua Karena Anugerah-Nya”. Tentu saja, semua memang karena anugerah-Nya, tetapi pernyataan itu mesti dimengerti sebagai ungkapan heuristik. Horotoyoh tembung opo kuwi? Gak usah dibahas! Mending kembali ke teks cerita hari ini: Petrus tersungkur sujud begitu tahu bahwa ternyata jalanya begitu banyak ikannya, padahal sebelum ini pun dia sudah melakukan prosedur yang sama untuk menangkap ikan di tempat yang sama.

Apakah memang kejadiannya begitu? Ya mboh, tapi sekali lagi, penulis teks itu tidak sedang membuat tulisan sejarah sebagaimana diupayakan oleh para ahli sejarah. Ia menuliskan refleksi imannya kepada Allah yang hadir dalam setiap tahap peziarahan hidup manusia. Yang barangkali bisa lebih diperhatikan ialah bagaimana tugas pelayanan, perutusan, panggilan, atau apalah istilahnya, tidak pernah diberikan Allah karena kompetensi manusia. Kompetensi itu memang dipakai, tetapi bukan karena kompetensi itu seseorang mendapat hidayah Allah (namanya juga hidayah, ya bergantung Allah dong).

Kok yakin amat bahwa Allah memanggil atau mengutus manusia bukan karena kompetensinya? Lha ya yakinlah wong dari kesaksian para murid atau rasul itu saja sudah ketahuan bahwa mereka bukan orang-orang yang kompeten, bahkan bodoh, bebal, keras kepala, meletup-letup, korup, dan seterusnya. Tambah lagi, siapa sih yang punya kompetensi menafsirkan Sabda Allah bagi orang lain? Penulis blog ini pun tak punya kompetensi selain mengetik 12 jari. Itu juga untuk beberapa tuts mesti melihat posisi keyboardnya karena dulu belajar ngetiknya pakai mesin tik manual atau apalah istilahnya.

Trus kira-kira kenapa ya kalau Tuhan memanggil orang untuk tugas perutusan itu malah orang yang dipilihnya kok ya ndelalahnya inkompeten?
Ya kira-kira supaya terjadi proses pertobatan terus menerus sehingga yang inkompeten itu nantinya sungguh punya kompetensi untuk menjadi pelayan Allah dan sesama.

Tuhan, mampukanlah kami melakukan pertobatan terus menerus sehingga inkompetensi kami dapat sungguh berguna bagi kemuliaan-Mu. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXII A/1
7 September 2017

Kol 1,9-14
Luk 5,1-11

Kamis Biasa XXII C/2 2016: Hati-hati Otak-otak
Kamis Biasa XXII B/1 2015: Baca Kitab Suci? Ngapain?
Kamis Biasa XXII A/2 2014: Jangan Takabur, Bray!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s