Politik Dua Kaki

Saya tidak tahu apakah pada fakultas ilmu sosial dan ilmu politik di universitas itu ada jurusan politik dua kaki, tetapi pokoknya belakangan ini muncul terminologi politik dua kaki. Tahu kenapa ada partai politik yang mencanangkan strategi politik macam begini? Tentu karena capresnya ada dua. Barangkali kalau capresnya ada tiga, parpol ini akan memakai juga strategi politik tiga kaki. Pokoknya mana yang dianggap lebih menguntungkan, strategi itulah yang akan diambil oleh kaum oportunis, dan Anda tahu kaum begini ini identitasnya gak jelas, bahkan meskipun label atau atributnya indah.

Teks bacaan hari ini menyajikan sabda bahagia tetapi dengan dua rumusan: kalau begini berbahagia, kalau begitu celaka, atau sebaliknya. Maka, meskipun rumusannya ada dua, kenyataan yang ditunjuk hanyalah satu. Dengan kata lain, bagaimana satu kenyataan itu ditanggapi akan menentukan apakah orang yang menanggapinya mengalami kebahagiaan atau celaka dalam hidupnya. Ambillah contoh pernyataan pertama: berbahagialah kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Itu paralel dengan pernyataan: celakalah kamu yang kaya karena kamu memperoleh penghiburanmu dari kekayaan itu.

Dua rumusan itu sama-sama memuat pengertian bahwa penghiburan sejati datangnya dari Kerajaan Allah. Itu tidak mau mengatakan bahwa orang harus miskin terus dan tidak boleh kaya! Baik miskin maupun kaya, orang beriman tidak bisa meletakkan kebahagiaannya pada kekayaannya. Kalau begitu, ia akan happy dan kalau sebaliknya, ia akan celaka alias tidak happy dalam hidupnya. Lha memangnya mesti diletakkan di mana itu kebahagiaan? Lha ya itu tadi: Kerajaan Allah.

Apakah Kerajaan Allah itu? Guru agama saya dulu mengajari saya secara sangat sederhana: ranah di mana Allah jadi rajanya. Nah, susah, bukan? Tahu dari mana bahwa orang hidup dalam ranah di mana Allah meraja? Katanya sih dari Sumedang, tetapi mungkin digoreng di kota lain.

Daripada kebanyakan tulisan, silakan memakai gambar berikut ini untuk memahami sabda bahagia dan sabda celaka dalam teks hari ini. Kalau perlu, silakan bermeditasi dengan bahan foto yang berkeliaran di dinding media sosial saya ini:

Andaikan orang-orang itu kaya, dan mereka mendapat penghiburan dari kekayaan mereka itu, tawa mereka tidak mengindikasikan kebahagiaan mereka. Andaikan orang-orang itu miskin, dan mereka berupaya memperkaya diri dengan korupsi, tawa mereka juga bukan tawa bahagia. Jadi, tertawa dengan rompi oranye itu tidak mengindikasikan kebahagiaan #lohkokjadigitukesimpulannya.

Tuhan, mohon rahmat-Mu supaya kami setia pada nilai-nilai kemanusiaan yang Kautanamkan dalam hati kami. Amin.


RABU BIASA XXIII B/2
12 September 2018

1Kor 7,25-31
Luk 6,20-26

Rabu Biasa XXIII A/1 2017: Merampas Anugerah
Rabu Biasa XXIII C/2 2016: Hidup Seolah-olah

Rabu Biasa XXIII B/1 2015: Besar Upahmu di Surga
Rabu Biasa XXIII A/2 2014: Married Oke, Jomblo Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s