Main Data

Kemarin saya baca pengakuan politik dua kaki dan hari ini saya baca pentolan partai berpolitik dua kaki itu jadi berita di sini. Tentu jadi semakin berat tugas KPK untuk memastikan apakah berita itu kosong atau memang tepercaya. Masih ingat kan insight beberapa hari lalu, kalau orang berpikir dengan fokus kebenaran, ia akan mengikuti tendensi eksklusif karena yang benar itu memang beda dari yang salah. Tidak bisa dua kebenaran diterima secara bersamaan di level atau dimensi yang sama. Maka, tak mengherankan, partai dua kaki itu bereaksi keras terhadap pemberitaan tadi dan menganggapnya sebagai fitnah.

Kalau begitu, orang yang dihantui problem benar-salah hidupnya tak tenang, baik selagi jadi presiden atau setelahnya. Sebaliknya, kalau fokus orang sudah melampaui problem benar-salah, yang saya istilahkan sebagai problem keselamatan, hidupnya akan baik-baik saja karena kebenaran diterimanya sebagai nilai universal yang semestinya dihidupi semua orang. Hidup baik-baik saja tidak berarti bahwa perseteruan atau pertentangan atau tamparan tiada, tetapi orang menghadapi tamparan pertentangan perseteruan itu secara baik-baik saja karena ia tidak lagi sibuk dengan problem benar-salah. Sudah dengan sendirinya kalau ada pilihan benar-salah, ia memilih yang benar, tetapi itu dibuatnya dalam kesadaran bahwa yang dianggapnya benar bisa saja dianggap salah oleh orang lain atau memang salah.

Maka dari itu, orang yang demikian ini, kalau dianggap salah, ia pertama-tama justru mawas diri jangan-jangan memang yang dipilihnya salah, bukan malah langsung menghakimi anggapan tadi sebagai fitnah. Apalagi kalau anggapan itu punya dasar atau data yang masuk akal. Sesederhana itulah hidup beriman, teorinya. Dalam praktiknya, segalanya jadi lebih ribet karena orang akhirnya mau cari selamat sendiri. Sudah betul cari selamat, tetapi keselamatan itu tak diletakkannya dalam konteks universal sehingga akhirnya benar-salah pun disesuaikan dengan kepentingan ego.

Teks bacaan hari ini menyodorkan mentalitas baru di tengah-tengah kultur balas dendam. Namanya mentalitas cinta. Sayangnya kata cinta itu sudah telanjur kehilangan sifat garangnya dan tereduksi sebagai roman-romanan belaka sehingga teks hari ini pun ditafsirkan sebagai sikap submisif. Padahal, orang yang bermental cinta ini justru sangat asertif karena yang dijadikan pegangannya adalah keselamatan jiwa-jiwa. Selain asertif, orang bermental cinta ini juga senantiasa update data sehingga tidak terprovokasi untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tanggapan yang diberikan orang bermental cinta ini tidak diletakkan dalam kerangka balas dendam, tetapi sungguh membuka mata orang supaya melihat kenyataan baik-baik dengan data. Kalau begitu, nitip klip video rupiah-dollar deh.


Semoga semakin banyak orang yang melek data dan tidak termakan sentimen politik di tahun yang panas ini. Amin.


KAMIS BIASA XXIII B/2
Peringatan Wajib S. Yohanes Krisostomus
13 September 2018

1Kor 8,1-7.11-13
Luk 6,27-38

Kamis Biasa XXIII B/1 2015: Hati-Mu dan Hatiku
Kamis Biasa XXIII A/2 2014: Did You Love Enough?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s