Winning Lap

Hari ini liturgi Gereja Katolik merayakan pesta Salib Suci, yang sama sekali tidak menarik orang Kristiani pada awal millenium pertama. Bisa dimengerti. Saya yang lahir di akhir millenium kedua, artinya, yang tidak punya pengalaman terhadap salib, punya impresi yang sama. Sejak kecil, semasa TK, saya sudah dibuat jipèr oleh salib. Gara-garanya, teman-teman saya kerap mengatakan kepada saya bahwa kalau saya ke kapel dekat rumah simbah saya, kelak saya matinya akan disalib. Namanya juga anak-anak, paling gampang diindoktrinasi dengan kata atau imaji tertentu (termasuk membawa senapan mengenakan sorjan atau perban) yang bisa menghunjam sampai bagian terdalam hatinya.

Saya benar-benar takut, sebetulnya bukan karena salibnya, melainkan karena intimidasi teman-teman saya (yang sudahlah tak usah dibahas dari orang macam apa mereka mendapatkan materi intimidatif itu). Sejak itu, saya begitu antipati terhadap orang Kristen. Lucu aja, orang Kristen antipati terhadap orang Kristen. Ya sebetulnya gak lucu juga sih, dalam agama yang sama toh orang tetap bisa saling antipati karena, sekali lagi, mikirnya gué bênêr lu salah. Kembali ke fokus: imaji salib memang bisa dipakai untuk mengintimidasi orang, membuat orang takut, karena salib segera diidentikkan dengan penyiksaan dan penderitaan.

Orang-orang Kristen pada abad-abad pertama benar-benar tak menaruh simpati pada tanda salib ini. Ini sudah saya bahas dalam posting Sakit Dipelihara. Mereka sudah punya tanda lain yang lebih menyejukkan: jangkar, gembala, ikan, dan entah apa lagi. Tanda salib barangkali bisa dirunut ke belakang pada abad-abad itu ketika para tokoh jemaat menafsirkan teks Kitab Suci, yang artinya jelas bahwa di Kitab Suci tidak ada perintah mengenai tanda salib seperti sekarang ini dikenal dalam tradisi Gereja Katolik. Mungkin semakin kental praktik tanda salib itu pada masa Konstantinus, yang jadi tokoh legendaris kekaisaran Romawi dengan narasi tanda salibnya [konon dialah, berkat jasa ibunya, Helena, yang menegakkan palang salib emas di bukit Golgota] sehingga salib tidak lagi dipandang sebagai simbol siksa derita, tetapi malah kemenangan.

Mungkin menarik dilihat kembali apa artinya salib sebagai tanda kemenangan. Frase itu memang melesapkan kata lain yang lebih penting, yaitu Kristus. Maksud saya, salib dalam perspektif Kristiani adalah tanda kemenangan Kristus, bukan kemenangan orang Kristen ini itu dalam perang atau persidangan, misalnya. Sampai di sini, masuklah frase ‘hari kemenangan’ di kepala saya karena istilah itu selalu muncul setiap tahun ketika saudara-saudari saya menuntaskan bulan Ramadhan dengan baik. Saya kok yakin bahwa kemenangan yang dirujuk pada masa puasa dalam tradisi Islam itu tidak berbeda dari kemenangan Kristus yang ditradisikan dalam tanda salib.

Mari lihat bahwa orang berpuasa itu semestinya bisa mengisi perutnya, tetapi memilih untuk mengosongkan perutnya. Komitmen pengosongan perut itu memuat kemenangan orang yang bersangkutan terhadap hal yang, bahkan meskipun mungkin tidak buruk juga, tidak kondusif baginya untuk membangun nilai kerohanian tertentu. Ini dikenal dalam kerohanian Jawa: mênang tanpa ngasoraké. Lengkapnya: nglurug tanpa bala, digdaya tanpa aji, sugih tanpa bandha. Piyé jal, susah kan? Begitulah salib sebagai tanda kemenangan.

Ya Allah, bantulah kami dengan rahmat-Mu untuk menang atas kelobaan kami sendiri. Amin.


PESTA SALIB SUCI
(Jumat Biasa XXIII B/2)
14 September 2018

Bil 21,4-9
Flp 2,6-11
Yoh 3,13-17

Posting 2017: Agama Cinta 
Posting 2016: Sakit Dipelihara

Posting 2015: Bonceng Yesus

Posting 2014: Kesucian Salib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s