Agama Cinta

Kemarin di ruang perkuliahan saya hadir seorang pembicara lulusan Harvard University (njuk ngopo nek lulusan Harvard) yang kompetensinya berkenaan dengan sufisme. Ia adalah salah satu dari sekian ratus umat Islam dalam satu dekade terakhir ini yang sangat berpengaruh di semesta alam. Yang ditegaskannya di kelas itu menarik saya: perlu transformasi paradigma dalam memahami Islam. Siapa yang mesti mengubah paradigma itu? 

Semula saya mengira yang disinggungnya ialah paradigma Barat yang mengidentikkan Islam dengan terorisme, kekerasan, hukuman, dan sejenisnya. Memang itu disinggungnya dan saya baru tahu bahwa ada peneliti yang membuat pengelompokan sederhana mengenai dua kategori agama: agama hukum dan agama ‘eros’. Dengan mudahnya Islam dikelompokkan pada agama hukum. Barangkali Yahudi juga digolongkan di situ dan agama lainnya diletakkan dalam kelompok agama ‘eros’ yang nanti ujung-ujungnya adalah agama cinta. Wah, pengelompokan yang aneh.

Akan tetapi, itu tidak jadi pokok pembicaraan karena memang dalam kadar tertentu ada benarnya juga meskipun jelas perlu dilengkapi dengan pendekatan lain. Pendekatan lain itulah yang lebih penting: bagaimana umat Islam sendiri perlu mengubah paradigma mengenai Islam. Ada banyak teks yang dibahas dan dari situ saya tahu bahwa bahkan teman-teman muda yang terpelajar pun seakan-akan baru pertama kali mendengar tafsir yang disampaikan oleh tokoh Islam ini. Mereka benar-benar mendapat pencerahan dan saya pun ikut kecipratan pencerahan itu. Memang sudah sejak puluhan tahun lalu (ya’ ya’o umurmu ki wis pirang puluh tahun!) saya menyimpan keyakinan bahwa sufisme adalah locus perjumpaan Islam dengan agama manapun di semesta ini.

Jadi, saya tidak begitu heran bahwa yang disampaikannya mengenai kisah Nabi atau hadits dari tokoh ini itu benar-benar menyejukkan. Saya baru tahu bahwa trinitas ditegaskan sebagai tauhid sebagaimana Islam mengenal 99 nama Allah (dan bahkan ada yang menunjukkan lebih dari itu), sehingga kalau dalam Kitab Suci disinggung permusuhan terhadap penganut trinitas, itu adalah trinitas yang dipahami oleh sekte Kristen tertentu pada zaman Nabi Muhammad. Ada beberapa pertanyaan yang saya tak mengerti karena kebanyakan mengutip ayat al-Quran langsung dalam bahasa Arab, tetapi yang mengesankan saya pada akhirnya ialah jawaban pertanyaan: mengapa tetek bengek hukum dan mengapa Allah juga memberi peluang pada kesan ‘keras’, ‘marah’, ‘perang’, dan sejenisnya?

Jawabannya: out of compassion. Kata tokoh itu kemarin: mesti ada bedanyalah orang yang marah karena dendam atau emosi dan orang yang marah dan menghukum out of compassion. Saya kira memang begitulah. Semua yang tampak kontradiktif pada Allah itu terjadi karena cinta dan langsung segera ditambahkan: out of compassion. Ini cinta yang bukan pinta. Itu pula yang saya pahami dari salib yang dipestakan Gereja Katolik hari ini. Kalau ada orang yang menyediakan dirinya untuk disalib bukan atas kesalahannya sendiri atau kepentingan narsisnya untuk mendapat pujian, perhatian, balas budi, dan seterusnya, ia tentulah orang yang memberikan dirinya out of compassion, karena Cinta.

Ya Allah, tambahkanlah cinta-Mu dalam hidup kami supaya agama menjadi cinta dan cinta menjadi agama kami. Amin.


PESTA SALIB SUCI
(Hari Kamis Biasa XXIII A/1)
14 September 2017

Bil 21,4-9
Flp 2,6-11
Yoh 3,13-17

Posting Tahun 2016: Sakit Dipelihara
Posting Tahun 2015: Bonceng Yesus

Posting Tahun 2014: Kesucian Salib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s