Sudah Berbagi?

Tampaknya betul kata pepatah: shared joy is a double joy, shared sorrow is half a sorrow. Memang bergantung persepsi orang mengenai kegembiraan dan kesedihan juga sih, tetapi poinnya adalah bersatu kita teguh bercerai kita sebutlah nama-nama artis pelindung perceraian, eaaaaa. Maaf ngelantur [jangan-jangan itu salah satu fungsi artis ya, bikin galfok penggemarnya], tetapi memang bahkan pemahaman kata-kata bijak pun akhirnya bergantung pada kebijakan pendengar atau pembacanya, yang ujung-ujungnya bisa ditentukan oleh kepentingan egonya. Sampai di sini, persoalannya jadi konflik ego dengan otoritas di luar ego.

Pernahkah Anda mengalami konflik seperti itu? Mestinya pernah, karena kalau tidak pernah, tak mungkinlah Anda membaca blog ini. Kok isa? Ya isalah, karena Anda mesti punya keperluan lain yang mungkin sebetulnya lebih penting, tetapi Anda membiarkan diri membaca blog ini, yang datangnya dari ego lain. Anda menerima otoritas lain terhadap ego Anda, dan begitulah Anda memecahkan konflik ego tadi: dengan berdialog dan mungkin menanggalkan sebagian dari ego Anda.

Teks bacaan hari ini menyodorkan sosok-sosok pribadi yang menata konflik ego itu dengan meletakkan seluruh hidup mereka otoritas lain yang mengatasi segala ego. Di sini narasi Kristiani dan Islam berbeda, tetapi saya memakai narasi Kristiani: Guru dari Nazareth menyerahkan hidupnya pada ‘takdir’-nya, dihabisi oleh orang-orang Israel, oleh bangsanya sendiri. Ini mengerikan, bukan karena cara kematiannya sendiri, melainkan juga karena dalam kepasrahan itu membuat egonya tersiksa sebelum ia berada di salib: tidak dipahami oleh begitu banyak orang yang dia cintai, difitnah, dikhianati, diludahi, kesepian hebat, ditinggalkan, dan sebagainya.

Hal yang sama, tentu tidak sama persis, dialami oleh beberapa followers di bawah salib. Mereka juga mestinya mengalami konflik batin yang hebat dan pada saat itulah datang nasihat dari salib: shared joy is a double joy, shared sorrow is half a sorrow. Berbagi entah kegembiraan atau kesusahan bukanlah perkara gampang. Keduanya membutuhkan orang keluar dari egonya, baik yang membagi maupun yang dibagèhi (alah opo sih, pokoknya yang diberi gitulah), tetapi outputnya beda. Yang satu menambah kegembiraan orang yang berbagi, yang lainnya mengurangi kesusahan orang yang berbagi, meskipun menambah kesusahan orang yang dibagèhi tadi sih. Mau gimana lagi, memang dibutuhkan empati.

Kepada siapa empati perlu diberikan? Kepada mereka yang menderita karena perjuangan untuk hidup sebagai manusia yang bermartabat, bukan mereka yang hidup secara superfluous alias lebay. Nah, tinggal sekarang melihat seperti apa manusia lebay: yang tidak pernah bisa berkata cukup, yang tak tahu batas, yang mengabaikan professional boundary, yang memanfaatkan sentimen agama untuk mempermainkan kekuasaan, dan seterusnya. Kepada manusia lebay begitu, tidak sewajarnya empati diberikan; lebih baik diberikan kepada mereka yang membutuhkan, yang jadi korban atas manusia lebay. Jadi ingat, kemarin ada pesakitan yang mengungkit-ungkit soal keadilan lantaran dirinya lulusan Amrik dengan predikat cum laude, malah dipenjara, aih aih…

Tuhan, mohon rahmat kepekaan hati dan budi supaya kami dapat berempati kepada mereka yang menjadi korban manusia-manusia lebay dan syukur dapat berbuat sesuatu. Amin.


PERINGATAN WAJIB SP MARIA BERDUKACITA
(Sabtu Biasa XXIII B/2)
15 September 2018

1Kor 15,1-11
Yoh 19,25-27

Posting 2017: OTT Bikin Malu Bangsa
Posting 2016: Pesta Duka

Posting 2015: Turut Berdukacita

Posting 2014: Speechless

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s