Tiramisù Lagi Dong

Adakah orang yang hidup di dunia ini untuk makan tiramisù alias segera setelah makan tiramisù itu ia menghembuskan nafas terakhirnya? Mungkin ada satu dari sekian milyar orang, tetapi pada umumnya orang hidup di dunia ini untuk suatu tugas yang lebih dari sekadar makan tiramisù. Btw, tiramisù itu artinya tarikakukeatas. Tagar kêrènnya mungkin #bikinakuflydong gitu. Saya memang beberapa kali makan tiramisù dan fly klêpêk-klêpêk, tetapi kok gak mati-mati ya. Berarti memang tugas hidup saya ini, juga tugas hidup Anda, bukanlah makan tiramisù atau sebutlah nama-nama makanan yang bikin Anda lapar.

Apakah tugas hidup saya itu menyebarkan agama yang sifatnya misioner seperti agama Kristiani? Rupanya tidak, karena setelah membaptis orang untuk memeluk agama Katolik, saya belum pensiun dari dunia ini juga. Lha Romo ini ya lucu, mosok tolok ukur tugas hidup itu setelah mission accomplished njuk mati? Oh, ketawa dong kalo lucu.
Yang jelas, hidup itu sendiri adalah anugerah yang memuat tugas dan tugasnya tak bisa direduksi sebagai pilihan-pilihan konkret seperti makan tiramisù tadi. Aneka pilihan konkret itu cuma penyokong orang untuk menjalankan tugas hidupnya. Apa tugas hidupnya? Ya untuk setiap orang berbeda-beda, bergantung pada panggilan dan kapasitasnya masing-masing untuk menanggapi panggilan itu.

Itulah yang disodorkan dalam teks bacaan hari ini. Guru dari Nazareth menegur Petrus yang menyodorkan jawaban yang benar tetapi ia sendiri tak mengerti makna jawaban itu: mesias, Kristus. Jangan salah, Anda dan saya juga belum tentu mengerti makna jawaban itu karena biasanya otomatis melekatkan kata itu pada agama Kristiani. Guru dari Nazareth tidak omong soal agama Kristiani, melainkan soal hidup memikul salib dan mengikuti dia. Itu yang tidak dimengerti Petrus, sehingga ia menarik gurunya dan menegur dia! Eladalah, ada gitu murid mengikuti guru dan dia berjalan di depan? Namanya mengikuti ya di belakanglah ya.

Setiap murid punya salibnya sendiri-sendiri yang mesti dipikul untuk mengikuti hidup Guru dari Nazareth itu. Yah, ujung-ujungnya sih azas dan dasarÈntèng? Sama sekali tidak! Mesti cemberut? Ha, di situlah bedanya antara yang beriman dan tidak. Orang tak beriman mencari kemudahan semata dan menyingkirkan aneka hal yang membuat hidup jadi ribêt, termasuk pandangan hidup beriman. Orang beriman menghadapi kesulitan hidup, mungkin menangis, tetapi tak berlama-lama dengan cemberutnya karena memanggul kesusahannya sendiri itu membuka tabir kehidupan yang lebih luas, lebih kaya dan membahagiakan.

Saya membayangkan diri sebagai Presiden Jokowi yang begitu tulus menjalankan tugas dan serangan bertubi-tubi dari sana-sini, atau seperti ganda putra peringkat pertama Kevin/Markus yang mesti jadi incaran ganda putra untuk menaklukkannya. Hidup beriman mereka bisa ditengarai dari bagaimana mereka enjoy dalam tekanan, bukan karena masa bodoh tak mau kerja keras atau bukan karena tak peduli menang kalah, melainkan karena mereka percaya bahwa mereka bekerja bersama Allah dan tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri.

Tuhan, mohon rahmat kesadaran senantiasa bahwa kami hidup dalam naungan-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXIV B/2
16 September 2018

Yes 50,5-9a
Yak 2,14-18
Mrk 8,27-35

Posting 2015: Emangnya Allah Mikir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s