Hati-Mu dan Hatiku

Injil Lukas merangkum kotbah di bukit versi Matius dengan mengambil pokok-pokoknya: sifat cuma-cuma alias gratis dari karunia Allah, damai sebagai kriteria penilaian terhadap orang lain, dan cinta tanpa syarat. Akan tetapi, pada akhir wacana ini ada hal yang pantas dilihat sebagai perbandingan. Matius menyimpulkan seluruh tulisan tentang kotbah di bukit ini dengan sebuah mandat: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna (Mat 5,48 ITB). Lukas menutupnya dengan rumusan berbeda: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati (Luk 6,36 ITB). 

Tampaknya, kesempurnaan Allah tidak terletak pada utak-atik-otakNya, melainkan pada kemurahan hati, belas kasihan-Nya. Kalau begitu, jika umat beriman diminta menjadi sempurna seperti Allah, kesempurnaan itu tak terletak pada kesalehan yang dilandaskan pada tata cara ungkapan tertentu, yang seolah steril terhadap aneka emosi atau hasrat jiwa (entah lu suka ato engga’ kalau mau sempurna ya mesti ikut cara gue dalam beragama)! Allah adalah sumber kemurahan hati dan dalam hati-Nya berkumpul seluruh kepedihan, kepahitan, kegelapan hidup kita.

Oleh karena itu, warta kabar gembira tidak muncul dari tata kelola atau manajemen suatu proyek. Kredibilitas Injil tidak pertama-tama muncul dari kesempurnaan struktur bantuan bencana alam, misalnya. Tata kelola itu bisa jadi trigger warta Injil karena bisa menjadi konsekuensi dari kemurahan hati, tetapi kemurahan hatinya sendiri muncul dari sumber ilahi itu. Mari lihat misalnya apa yang diserukan Paus Fransiskus supaya setiap paroki di Eropa (yang konon ada puluhan ribu) menampung satu keluarga pengungsi perang dari Timur Tengah.

Seruan itu tidak muncul dari hasrat atau ambisi pribadinya untuk kristenisasi, misalnya (bahkan kalau mau pakai teori konspirasi lantas kita malah bisa berspekulasi bahwa arus pengungsi ke Eropa daripada ke negara Arab adalah salah satu strategi IS*S untuk menelusup ke Eropa). Paus Fransiskus menyampaikan seruan dari batinnya, bersumber pada kemurahan hati Allah sendiri, bahwa pengikut Kristus mesti merealisasikan cinta tak bersyarat. Bisa jadi keluarga Katolik yang ditumpangi kemudian menerima pengungsi dengan terpaksa: itu artinya kemurahan hatinya tak muncul dari hati Allah sendiri, asal karunia yang cuma-cuma. Dengan bela rasa dan kemurahan hatilah kita mewartakan wajah Allah.

Tuhan, semoga aku semakin peka untuk menangkap wajah-Mu dan menampakkannya kepada sesama. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXIII B/1
Beato Fransiskus Garate (SJ)
10 September 2015

Kol 3,12-17
Luk 6,27-38

Posting Tahun Lalu: Did You Love Enough?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s