Kenapa Kitab Suci Turun

Sewaktu mengetik ini, mata masih sekitar 45 watt (atau tinggal 45 watt?) dan herannya, bacaan hari ini kok ya nuansanya seperti kemarin! Mosok jaga malam lagi?
Tapi sempat tambah beberapa watt karena pertanyaan yang dilontarkan Petruk eh Petrus (biar meyakinkan kalau sudah ngantuk) itu memantik pertanyaan dalam benak saya: apakah Kitab Suci itu, kalau memang merupakan wahyu dari Allah, cuma diberikan bagi orang beragama tertentu atau bagi semua orang? 
Kitab Sucinya mungkin bagi orang beragama tertentu, tetapi kebenaran yang terkandung di dalamnya pasti untuk semua orang.

Alur pikir orang ngantuk mengenai jawaban itu begini: agama itu kan muncul kemudian, yaitu setelah Kitab Suci tersusun relatif utuh dan ada orang-orang yang mengikuti tafsir terhadap Kitab Suci itu secara tertentu. Belum pernah saya dengar dalam cerita sejarah bahwa ada sekelompok orang beragama A dan kepada kelompok itu diwahyukanlah Kitab Suci A. Janggal rasanya kalau itu terjadi (yaitu, ngapain orang itu berkelompok sebelum tersusun Kitab Suci?). Lah, bukannya sejarah agama Yahudi tuh gitu ya, Mo? Mereka berkelompok karena nasionalisme kaum tertindas dan pada suatu momen turunlah Taurat bagi mereka?

Maaf, saya sudah ngantuk dengan mata kriyap-kriyip, tak bisa berdebat, tetapi contoh itu justru menegaskan bahwa Kitab Suci memang mendahului agama. Tadi kan dibilang orang Yahudi berkumpul sebagai bangsa terjajah dan kemudian ketika mereka keluar dari bangsa penindas muncullah Taurat. Lha, Taurat itu memang ditujukan kepada bangsa Yahudi, tetapi pesan kebenaran yang terkandung di dalamnya, misalnya bahwa penjajahan di muka bumi ini mesti dihapuskan (gitu po pesannya?), tentu berlaku atau ditujukan kepada setiap orang.

Persoalannya tidak terletak pada teksnya sendiri, tetapi pada bagaimana orang membacanya. Kerap orang main comot sana sini teks dari Kitab Suci untuk memaksakan prasangka atau kepentingannya sendiri. Apakah yang salah teksnya? Tentu tidak. Lha kalau jelas-jelas di Kitab Suci tertulis tamparlah, bunuhlah, habisilah, dan sebagainya, apa bukan berarti memang Kitab Suci memandatkan kekerasan? 

Mungkin begitu, tetapi orang mesti mempertimbangkan konteks dongmosok mentang-mentang ada ayat soal poligami pada Kitab Suci njuk hanya berarti bahwa Kitab Suci memandatkan poligami? Lihat dululah konteks ‘asli’ sewaktu teks itu muncul dan juga konteks sekarang, supaya bisa menemukan pesan kebenarannya, bukan pesan yang menguntungkan kepentingan dan prasangka sendiri! Kalau konsisten dengan hal ini, nanti akan ketahuan bahwa pesan kebenaran Kitab Suci itu sejatinya ditujukan kepada setiap orang.

Jadi waspadalah terhadap frase Kitab Suci A diturunkan kepada agama A. Mungkin baik dipikir ulang, dipertimbangkan lagi arti ungkapan itu. Injil diturunkan bagi orang Kristen hanya berarti bahwa orang Kristen punya cara membaca Injil secara tertentu (karena sudah dipengaruhi oleh struktur agama Kristen itu sendiri). Pesan kebenaran Injil itu sendiri terbuka dan tertuju kepada semua orang yang mau membaca dan mencari kebenaran, yang mau tidak mau mesti dibuat dalam kerangka dialog dengan yang lain. Nah, puyeng gak? Saya enggak puyeng, cuma ngantuk.

Ya Allah, mohon rahmat untuk menangkap pesan kebenaran-Mu dalam perjumpaan kami dengan yang berbeda dari kami. Amin.


HARI RABU BIASA XXIX A/1
25 Oktober 2017

Rm 6,12-18
Luk 12,39-48

Rabu Biasa XXIX C/2 2016: Anytime Now 
Rabu Biasa XXIX B/1 2015: Gak Ngerti Mau Ngapain
 
Rabu Biasa XXIX A/2 2014;ahun Lalu: Jangan Lupa Bernafas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s