Enjoy Your Life

Saya kira Anda yang gemar ungkapan-ungkapan pemberi motivasi pernah menonton suatu klip video seorang dosen filsafat yang mengajarkan soal manajemen hidup dengan simulasi memasukkan pasir, kerikil, bola golf ke dalam stoples transparan. Kalau belum ya silakan lihat pada tautan ini. Tidak saya sisipkan di sini karena saya bukan penggemar bir (meskipun saya rindu Fransiskaner). Berikut ini bukan transkripnya.

Ceritanya si dosen membawa stoples kosong, lalu ia mulai memasukkan bola-bola golf, kerikil dan pasir. Setiap kali selesai memasukkan tiga benda itu ia selalu bertanya apakah stoples itu penuh dan jawabannya selalu,”Ya, penuh.”  Belum selesai, ternyata ia masih bisa menuangkan air ke dalam stoples sampai muntup-muntup. Si dosen bertanya,”Apa yang saya ajarkan kepada kalian?” [Ini mestinya bukan dosen di Indonesia karena kalau rumus pertanyaannya begitu, mahasiswanya akan diam seribu bahasa berusaha jadi cenayang dan membaca pikiran dosennya).
“Untuk segala sesuatu ada waktunya,” jawab mahasiswa yang rajin membaca tautan bacaan harian blog ini [padahal teks Pengkhotbah 3,1-11 ya baru nongol sekali pada posting Waktunya Nganu. Berarti ingatannya kuat, dan ini pasti bukan mahasiswa di Indonesia #halahdibahas].
“Bukan.” Hahaha, sudah kutip Kitab Suci ternyata keliru!
“Kalau saja tadi saya masukkan bola golfnya belakangan, pasti tidak bisa, bukan?” Nah, baru deh mahasiswanya mikir. Memang telmi kok mahasiswa itu, kayak saya gini nih menjelang ujian komprehensif masih telmi.

Dalam hidup ini tak cukuplah meyakini untuk segala sesuatu ada waktunya. Titik krusialnya bukan pembagian waktunya, melainkan pemanfaatan waktunya: apakah orang hidup dengan prioritas yang betul atau tidak. Kalau orang punya skala prioritas, ia memanfaatkan hidupnya, menginvestasikan waktunya mulai dari yang terpenting. Yang lain-lainnya bisa disesuaikan. Kalau orang mengutamakan yang tidak penting, jangan-jangan ia malah “kehabisan waktu” untuk menikmati hal besar dan penting.

Falsafah hidup seperti itu berlaku umum karena semua orang toh berhadapan dengan susahnya hidup. Peradaban kita ini mencapai suatu paradoks di balik peningkatan kualitas hidup: teknologi semakin mempermudah manusia untuk menikmati hidup, akan tetapi, sekaligus orang seakan ‘kehilangan waktu” untuk menikmati hidup!
Guru dari Nazareth ini mengundang orang untuk bersiaga karena hari akhir itu bisa mak jegagig. Tentu saja orang pada akhirnya bebas memilih. Orang bisa pasif menunggu kiamat, bekerja, having fun, mengarahkan diri pada keselamatan, atau entah apa lagi. Pada akhirnya bisa terjadi one is taken, the other left. Ada mereka yang aware dan mengalami perjumpaan dengan Allahnya, ada juga mereka yang bahkan tak peduli lagi dengan (konsep) Allah dan iman kepada-Nya.

Entah orang beriman atau tidak, ia sungguh perlu menata ‘bola golf’-nya supaya mendapat prioritas. Kalau perlu, orang mesti mengosongkan dulu seluruh kotak kerangka prioritasnya sebelum terlambat dan akhirnya cuma melongo terhadap kenyataan “Di mana ada mayat di situ ada burung nasar”.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan dan keberanian untuk menyingkirkan hal tak penting dan tekad hati untuk mendahulukan yang terpenting dalam hidup kami. Amin.


JUMAT BIASA XXXII B/2
Pesta Wajib Para Kudus SJ: R. Gonzales, Yohanes de Castillo, Alphonsus Rodrigues (Martir)
16 November 2018

2Yoh 1,4-9
Luk 17,26-37

Jumat Biasa XXXII A/1 2017: Papa Bisa Aja
Jumat Biasa XXXII C/2 2016: Post-Power Syndrome
Jumat Biasa XXXII B/1 2015: Kenal Dalangnya?

Jumat Biasa XXXII A/2 2014: Semakin Rohani, Semakin Lembut?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s