Susahnya Hidup

Kalau orang mengancam untuk bunuh diri, itu artinya ia tak sungguh-sungguh ingin bunuh diri. Mungkin rasa takut mati jauh lebih dominan. Maka, dulu saya cenderung mengabaikannya, tetapi menilik fenomena sosial belakangan ini, saya mesti berpikir ulang. Lha piye jal, mosok informasi mengenai tidak bisa masuk SMP favorit lantaran peraturan zonasi jadi pemicu anak SD bunuh diri? Lebih miris lagi, anak SD sudah main pacar-pacaran (karena belum bisa pacaran betulan) dan begitu ada penolakan njuk bunuh diri? Iki donya apa tah?

Di penghujung abad XIX Emile Durkheim membuat pembedaan bunuh diri dengan empat tipologi: egoistic, altruistic, anomic, dan fatalistic. Saya bukan ahli Emile Durkheim, tetapi saya kira, yang dibuat anak-anak SD atau mereka yang patah hati itu adalah jenis bunuh diri egoistik. Entah niatnya terlaksana atau tidak, orang macam begini maunya orang lain mengabulkan permintaannya atau kiamat saja. Barangkali jenis bunuh diri macam inilah yang populer seiring dengan tendensi hidup orang yang individualistik. Ini memprihatinkan, sebagaimana halnya bunuh diri anomic: lantaran orang kehilangan sense, hidup tak bermakna, tak berarah, tanpa orientasi.

Sampai di situ, teks bacaan hari ini mengingatkan saya bahwa ancaman bunuh diri sekarang ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Ancaman seperti ini mengundang saya untuk mendengarkan lebih jauh lagi apa yang senyatanya diinginkan dan dibutuhkan orang. Undangan ini tentu tak hanya berlaku bagi saya, tetapi juga bagi setiap orang yang hendak menemukan makna dalam hidupnya. Sayangnya, entah bagaimanapun hendak dirumuskan, makna itu tidak bisa tidak terkait dengan suatu prinsip dasar realitas yang dalam agama di Indonesia disebut Tuhan Yang Maha Esa.

Mengapa ‘sayangnya’? Karena sifat mutlak Tuhan YME itu cenderung segera diidentikkan dengan ajaran agama tertentu (yang tidak mutlak) sehingga orang lebih mudah jatuh dalam echo chamber daripada menceburkan diri dalam situasi yang disebut dalam teks bacaan pertama: Hati raja seperti batang air dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini. Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.

Barangkali, zaman now ini tidak memudahkan orang mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah persis karena Yang Mutlak tadi punya kehendak bebas, termasuk bahwa Ia bisa mengambil corong lewat apa saja yang berubah, yang tidak mutlak, yang rendah, yang hina. Ini yang saya maksudkan kemarin dengan posting How Low Can You Go. Mendengarkan mereka yang kepikiran untuk bunuh diri memungkinkan saya mengerti bagaimana sulitnya menemukan makna di tengah gejolak hidup yang bisa menawarkan apa saja, bahkan secara absurd. Orang butuh semacam azas dan dasar yang memberikan pedoman supaya tak hanyut dalam arus yang gak jelas tetapi membiarkan diri mengalir bersama Sabda Allah yang bisa pergi ke mana Dia mau itu.

Lah, sama-sama gak jelasnya dong, Mo? Betul sama-sama gak jelas, cuma yang mengalir bersama Sabda Allah tadi memberi ketenangan, kedamaian, kemantapan, kegembiraan, yang lebih langgeng sifatnya. Lebih mak nyusss nang ati ngono loh…

Tuhan, buatlah kami semakin mampu mendengar dan melaksanakan Sabda-Mu. Amin.


SELASA BIASA XXV B/2
25 September 2018

Ams 21,1-6.10-13
Luk 8,19-21

Selasa Biasa XXV A/1 2017: Dolanan Kitab Suci
Selasa Biasa XXV C/2 2016: Lingkaran Syaiton
Selasa Biasa XXV B/1 2015: Masalah Keluarga Yesus

Selasa Biasa XXV A/2 2014: Otak dalam Cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s