Secret Admirer

Orang beragama mestinya adalah secret admirer Allah.

Sék sék sék Mo, bukannya itu bertentangan dengan teks bacaan hari ini yang meminta orang beriman untuk menyalakan pelita dan tidak meletakkannya di bawah tempat tidur dan justru mesti menunjukkannya kepada dunia? Saya bilang justru itulah yang jadi pesan bacaan hari ini: orang beragama adalah secret admirer Allah.

Omong-omong soal secret admirer ini, saya teringat pada kisah wayang yang saya baca sewaktu SD, dan sayangnya saya tak ingat lagi nama tokoh yang saya maksud. Barangkali Karna (CMIIW), yang hendak bertarung melawan Arjuna. Karna ini diam-diam mengagumi Resi Durna, tetapi karena tak bisa diterima sebagai muridnya, ia berlatih sendiri dengan inspirasi dari Resi Durna ini. Saya benar-benar ragu apakah ini Karna atau ada tokoh lain, tetapi inti ceritanya menunjukkan secret admirer ini berhasil menunjukkan dirinya sebagai sosok yang layak diperhitungkan meskipun ia belajar secara otodidak tanpa ditangani langsung oleh Resi Durna.

Secret admirer seperti itulah yang saya maksudkan, bukan secret admirer romantis nan egois: ia tidak menggembar-gemborkan diri sebagai pilihan sang guru, tetapi ia bekerja keras dengan inspirasi dari sang guru. Orang beragama tak perlu menggembar-gemborkan identitas dirinya sebagai orang beragama tertentu. Pret. Kalau perlu gembar-gembor, yang digembar-gemborkan bukan identitasnya, melainkan dampak baiknya bagi dunia. Itu mengapa Guru dari Nazareth memakai perumpamaan pelita atau dian, bukan supaya orang mengekspos pelita atau diannya (terbuat dari emas, perak, perunggu, lempung, kaca, dll), melainkan supaya terang dari pelita atau dian itu memberi insight kepada dunia.

Sebagai secret admirer Allah, orang beragama mesti memperhatikan cara mendengarnya, supaya yang didengarnya bukan cuma ajaran agama sendiri, melainkan sungguh ajaran Allah, yang rupanya disampaikan lewat aneka cara, orang, masyarakat, agama, tradisi, ritual, dan aneka ciptaan lainnya. Ini masih terhubung dengan posting Satu Titik dan How Low Can You Go. Yang pertama soal titiknya, yang kedua soal kehadiran ‘titik’ itu di tempat-tempat yang tak terduga, khususnya tempat yang dianggap rendah. Semakin setia dengan hal ini, orang beragama sungguh jadi secret admirer. Kalau tidak, sebaliknya, ia jadi secret destroyer. Tahu sendiri kan bagaimana orang beragama jadi secret destroyer? Dengan menggembar-gemborkan agamanya sendiri.

Tuhan, mampukanlah kami untuk jadi pendengar Sabda-Mu dalam setiap perjumpaan dengan liyan. Amin.


SENIN BIASA XXV B/2
24 September 2018

Ams 3,27-34
Luk 8,16-18

Senin Biasa XXV A/1 2017: We All Feel Better in the Dark
Senin Biasa XXV C/2 2016: Koruptor, Motivator, Provokator
Senin Biasa XXV A/2 2014: Sorry, I have no time to pray

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s