How Low Can You Go

Sewaktu di tempat pendidikan dulu, baik di negeri sini maupun di negeri sana, saya mengenal tugas ministraré, bahasa Latin (berarti ‘melayani’) yang diadopsi ke dalam bahasa Inggris sebagai minister dan dalam bahasa Indonesia jadi menteri. Jadi para menteri itu memang sesungguhnya adalah pelayan, pembantu presiden, yang melayani rakyat. Bahwa kemudian dalam sejarahnya itu jadi jabatan yang diperebutkan orang untuk kekuasaan, tentu ilmu bahasa tak bisa menjelaskannya. Saya senang bahwa rekam jejak presiden NKRI yang sekarang ini, meskipun tidak bisa dibilang sempurna, punya nuansa pelayanan lebih dominan daripada sekadar paradigma kekuasaan. Oposisinyalah yang membalik prioritas itu; ya wajar sih, namanya juga oposisi. Akan tetapi, sudahlah, mari kembali ke nomor satu tadi: ministraré.

Ministraré terberat ialah ketika kami bertiga melayani sekitar 90 orang kelaparan yang duduk mengelilingi meja makan sebanyak 15 meja. Sebetulnya tugasnya sangat sederhana. Mengambilkan wadah sup panas dari dapur untuk disediakan pada masing-masing meja, lalu menariknya kembali ke dapur kalau wadah itu sudah kosong atau semua sudah mengambil sup. Begitu juga piring-piring yang sudah dipakai untuk makan sup mesti kami tarik ke tempat cuci piring. Setelah itu, wadah salad kami kumpulkan di meja makanan sisa, dan mulai mengambilkan main course yang berupa daging atau ikan, dan terakhir biasanya buah atau es grim disajikan. Sungguh, ini pelayanan yang sangat ringan jika dibandingkan dengan membangun puluhan bendungan atau ribuan kilometer jalan tol, melonggarkan cengkeraman Freeport di Papua atau mengèprèt Petral.

Meskipun demikian, bukan berat ringannya pelayanan itu yang jadi fokus saya karena berat ringan itu juga relatif. Saya tertarik melihat bagaimana orang memandang pelayanan atau pelayan: remeh, sekunder, tak penting, cuma pembantu, dan sejenisnya. Setelah saya lihat-lihat, ministraré tidak serendah itu karena pada kenyataannya, tidak setiap orang dari 90 orang itu bisa begitu saja mengambil apa yang dia mau. Ia tidak bisa ke dapur untuk mengambil ini itu yang dia mau. Petugas ministrarélah yang bisa melakukannya, alias dia punya kuasa, punya wewenang yang tidak dimiliki oleh orang yang dilayaninya. Itulah coolnya ministraré, kuasa itu dipakainya untuk melayani banyak orang supaya tidak jadi anarkis.

Meskipun demikian, pikiran anarkis itu bisa saja dipelihara oleh mereka yang merasa diri lebih paham persoalan dan hendak menegaskan kekuasaannya sendiri. Itulah yang dipikirkan oleh para murid Guru dari Nazareth dan kebanyakan orang beragama juga: merasa bahwa kuasanya itu berasal dari kekuatannya sendiri. Tak heran, kedaulatan rakyat pun hendak dimanipulasi sebagai ajang unjuk kuasa daripada hak dan kebebasan rakyat untuk mendapat informasi yang benar. Pun kalau orang macam ini menggunakan kata hidayah, kata itu sudah dikotorinya dengan nafsu kuasanya sendiri yang bisa menghalalkan segala cara. Targetnya tak lain adalah jabatan, kuasa, uang per se dan di situ tidak terdapat kebesaran Allah. Kebesaran Allah, paradoksnya, justru terletak dalam pelayanan-pelayanan kecil nan dianggap rendahan yang berujung pada kepentingan kemanusiaan, kepentingan semakin banyak orang, kesejahteraan dan kebaikan semua. How low can you go? Ke mana uang dan kuasa diarahkan?

Tuhan, bantulah kami supaya segala milik kami sungguh dapat menjadi amanah dari-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXV B/2
23 September 2018

Keb 2,12.17-20
Yak 3,16-4,3
Mrk 9,30-37

Hari Minggu Biasa XXV B/2: Kau Kira Yesus Tak Punya Masalah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s