Waktunya Nganu

Untuk segala sesuatu ada waktunya. Si Pengkhotbah, setelah kemarin mewartakan kesia-siaan di dunia ini, hari ini menyampaikan bahwa kesia-siaan itu tak terhindarkan dalam kronologi waktu: ada waktu untuk lahir-mati, menanam-mencabut, membunuh-menyembuhkan, menangis-tertawa, meratap-menari, membuang-mengumpulkan, memeluk-puasa memeluk, merobek-menjahit, dan seterusnya. Loh, mosok itu disebut kesia-siaan sih, Mo? Menanam, lahir, menyembuhkan, menari, memeluk, menjahit, dan sebagainya itu, mosok sia-sia? Wah, lha kemarin pas bahas kesia-siaan gak ditanyakan, sekarang sudah waktunya ganti topik baru tanya. Dasar siswa! Tapi, apa urusan Anda menanyakannya sih?

Kronologi tak terhindarkan selama semesta ini berjalan dan perkara yang terjadi itu sia-sia atau tidak, bergantung pada bagaimana peristiwa-peristiwa dalam waktu kronologis itu dimaknai. Bagaimana memaknainya, sumonggo, silakan dengarkan nasihat teman dari teman temannya teman-teman saya dalam video ini:

Sembilan nasihat komedian ini pantas dipertimbangkan sebagai kerangka memaknai  juga. Kerangka lain, yang bisa juga klop dengan nasihat komedian ini, disodorkan juga oleh teks bacaan kedua hari ini. Ini adalah semacam ‘perang’ master narrative yang disodorkan Guru dari Nazareth. Ia tahu benar bahwa bangsanya menantikan mesias yang bakal menjadikan bangsa Israel itu berjaya di atas bangsa-bangsa lain di dunia ini. Master narrative yang ditawarkannya bertolak belakang dengan pemahaman umum bangsanya. Itu mengapa ia melarang para muridnya untuk berkoar-koar mengenai identitasnya sebagai Mesias.

Apakah master narrative atau grand narrative yang ditawarkan Guru dari Nazareth itu berguna? Bergantung pada sudut pandang yang dipakai orang tentunya. Narasi besar ini ditepis oleh penggembira posmodernisme, yang nota bene adalah orang-orang dalam beberapa generasi terakhir ini. Bukan hanya narasi besar yang ditawarkan Guru dari Nazareth, melainkan juga yang ditawarkan guru-guru lain. Saya tidak menepis master narrative tawaran Guru dari Nazareth karena narasi itu, saya memercayainya, orang lain tak harus memercayainya, dilegitimasi oleh hidupnya sendiri: sengsaranya, wafatnya, dan kebangkitannya.

Betapapun hebat ajaran yang disampaikan Guru dari Nazareth, ujung-ujungnya ya sia-sia: cuma secuil orang dari bangsanya yang percaya. Kenapa? Karena ia mulai dengan penderitaan. Lha wong kabar gembira kok dimulai dengan penderitaan! Siapa mau percaya, jal? Bahkan orang-orang terdekatnya pun tak memercayainya sebelum warta kebangkitan menjadi jelas bagi mereka. Sebelum itu, insting manusiawi mengatakan bahwa apa yang tidak disukai ya dihindari, yang disukai dipegang erat-erat.

Kalau mengikuti nasihat Pengkhotbah, mesti diakui bahwa ada saatnya yang disukai datang dan pergi, sebaliknya ada juga saatnya yang tidak disukai datang dan pergi. Persoalannya tidak terletak pada kronos, tetapi bagaimana kairos hadir dalam kronos itu. Persis di situlah relevansi tawaran narasi besar Guru dari Nazareth: peluklah penderitaan sebagai jalan pembebasan karena menghindarinya adalah kesia-siaan. Bagaimana memeluk penderitaan itu? Bukan dengan mencari-cari penderitaan, sebagaimana nasihat komedian itu untuk tak usah mencari kebahagiaan, melainkan melihat peluang kebangkitan di dalamnya alias menjadi kreatif. Di situ master narrative berguna supaya orang tak terjerembab dalam cengkeraman kronos.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat melihat terang juga dalam pengalaman gelap kami. Amin.


JUMAT BIASA XXV B/2
28 September 2018

Pkh 3,1-11
Luk 9,18-22

Jumat Biasa XXV C/2 2016: Cari Slamet
Jumat Biasa XXV B/1 2015: Mari Berkurban Hari Kedua

Jumat Biasa XXV A/2 2014: Seperti Apa Roda Hidupmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s