Apa Urusan Anda?

Segala sesuatu adalah sia-sia, sia-sia belaka. Begitu kata si Pengkhotbah. Itu benar, tetapi tidak mutlak sifatnya karena jika sifatnya mutlak, jadi boomerang bagi si Pengkhotbah sendiri. Kok boomerang sih, Mo, si Pengkhotbah itu kan belum kenal Instagram? #halah
Kalau segala-galanya memang sia-sia belaka, ya berarti pernyataan “segala sesuatu adalah sia-sia” itu termasuk sia-sia toh? Dengan kata lain, apa urusan Anda menanyakan hal itu? #halahiyuuuung.
Kata-kata bijak si Pengkhotbah itu perlu diterima sebagai pernyataan umum dan mengandaikan bahwa ada hal yang tidak sia-sia, dan itulah yang semestinya dicari setiap orang, entah beriman atau tidak, entah beragama atau tidak.

Kemarin seorang temin berkomentar mengenai gerakan memperjuangkan nilai, mengeksekusi proyek keselamatan Allah yang senantiasa berhadapan dengan kekuatan gelap yang tak kunjung usai. Itu melelahkan dan seluruh daya upaya jadi bisa tampak sia-sia karena kekuatan gelap itu. Betul. Akan tetapi, saya curiga jangan-jangan kelelahan itu justru berakar pada cara berpikir orangnya sendiri, bukan karena kekuatan gelap yang bolak-balik mengganggu. Cara berpikir yang manakah itu?

Cara berpikir cartesian, cara berpikir modern, cara berpikir yang mengasumsikan kepastian saintifik terhadap hal yang bersangkutan dengan misteri. Bisakah diafirmasi bahwa orang baik pasti mendapatkan balasan yang baik? Bisakah dipastikan bahwa kalau tidak ada kekuatan gelap njuk dunia ini aman damai tenang sentosa? Bisa saja, tetapi pemastian itu sia-sia di dunia sini lha wong kita mengenal terang saja karena melihat fenomena kegelapan kok! Sebaliknya, kita menyebut sesuatu gelap karena punya pembanding: terang. 

Problemnya, orang beragama itu, karena memang niatnya mau membawa terang, berpikir bahwa apa yang dilakukannya dengan niat membawa terang itu adalah terang itu sendiri! Itu juga adalah cara berpikir cartesian: bahwa aku sebagai subjek tahu sepenuhnya bahwa yang kulakukan ini adalah betul-betul terang, benar, baik seratus persen. Ha njuk tahunya dari mana [kandhani saka Sumedang kok!] bahwa itu betul-betul terang, benar, baik seratus persen kalau tidak berhadapan dengan yang gelap, salah, dan buruk? Cara berpikir begini ini membuat orang seakan-akan berperang melawan kegelapan. Ya capek dong kalau perang melulu.

Andai orang beragama memberi tempat 1% saja dari keyakinannya bahwa Tuhan itu mewahyukan Diri juga melalui ranah yang dianggapnya gelap, barangkali paradigma perang bisa pudar, barangkali orang beragama senantiasa èling bahwa ia sedang mewujudkan proyek Allah, bukan sedang membawakannya seperti membawa segepok uang dollar dari satu tempat ke tempat lain. Kalau begitu, jangan-jangan, kebaikan atau proyek Allah itu tidak terletak per sé pada apa yang kita lakukan (karena bisa jadi itu sia-sia belaka!), tetapi pada bagaimana kita terus mencari sintesis baik-buruk dari waktu ke waktu. Itulah urusan orang beriman.

Saya kira, proses mencari sintesis setiap saat (untuk tidak menyebut kata diskresi) justru merupakan permainan jiwa yang mengasikkan, dan ini tidak sia-sia karena membawa hidup jadi dinamis. Tentu saja, sejauh orang tidak menyimpan attachment dalam hatinya.

Tuhan, mohon rahmat kebebasan hati untuk mengikuti gerak cinta-Mu dalam hidup yang memuat kesia-siaan ini. Amin.


KAMIS BIASA XXV B/2
Peringatan Wajib S. Vinsensius a Paulo
27 September 2018

Pkh 1,2-11
Luk 9,7-9

Kamis Biasa XXV A/1 2017: Dasar Kirik
Kamis Biasa XXV C/2 2016: Silent Mode
Kamis Biasa XXV B/1 2015: Mari Berkurban

Kamis Biasa XXV A/2 2014: Memuaskan tapi Sia-sia… Hadeh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s