Dasar Kirik

Di tempat saya tinggal ini ada dua kirik yang entah kenapa sejak saya pindah ke rumah ini sampai sekarang, mereka tetap saja kirik. Orang tua mereka kirik dan saudara sepupu mereka juga kirik. Cuma tuan mereka saja yang bukan kirik. Setiap saya pulang dan hendak membuka pintu gerbang, mereka menggonggong, dan baru berhenti menggonggong setelah wajah saya terlihat, bahkan meskipun masih mengenakan helm. Sudah berkali-kali saya bilang pada mereka supaya daripada menggonggong, kenapa tidak membukakan pintu saja, tapi ya itulah, dasar kirik!

Sekarang ini yang satu agak pincang karena terlibat perkelahian, ya antar mereka sendiri. Saya ya gengsilah berantem sama mereka, mosok cuma untuk rebutan tulang saja mesti berkelahi. Akan tetapi, memang salah satu kirik itu punya tabiat yang menjengkelkan. Irinya setengah mati. Kalau anjing yang satunya cuma dielus kepalanya, kirik yang lebih muda ini langsung menyeringai. Apalagi kalau anjing satunya, yang sekarang pincang ini, diberi makan. Dasar kirik!

Akan tetapi, ya dari situ saya bisa berempati dengan Herodes yang dikisahkan dalam bacaan hari ini. Kalau orang banyak sangat ingin bertemu dengan sosok kontroversial dari Nazaret karena hendak mengalami perbuatan besarnya, barangkali Herodes juga sangat ingin bertemu dengannya, tetapi dengan motif yang sangat berbeda. Dari perspektif kekuasaan, betul bahwa insting kirik rumah saya itu begitu kuat menunjukkan keinginan dominasinya. Ia tak ingin kirik lainnya mendapat perhatian yang seharusnya, menurut dia [lha apa aku ki ya kirik kok bisa tahu menurut dia sih?] diberikan kepadanya.

Belakangan saya mendengar slenthingan bahwa pimpinan bangsa yang sekarang ini punya indikasi menerapkan model kekuasaan Orba. Who am I to judge, tapi menurut penerawangan saya, model kekuasaan Orba itu ya diterapkan oleh orang yang bernama Soeharto, selama sekian puluh tahun. Yang sekarang ini punya modelnya sendiri dan saya kok ragu bahwa orang ini adalah diktator. Bahwa jadi objek aneka kepentingan dan bisa jadi terperosok pada kepentingan tertentu, saya kira itu masuk akal, tetapi sejauh tidak setiap kali seperti kirik di rumah saya tadi, tak ada alasan untuk menyebutnya sebagai diktator. Semoga saja begitu, saya sudah ngantuk, tetapi besok pasti kirik di rumah saya itu pasti masih tetap jadi kirik. 

Ya Allah, bantulah kami membersihkan hati yang kerap digerogoti oleh iri hati dan dengki. Amin.


HARI KAMIS BIASA XXV A/1
28 September 2017

Hag 1,1-8
Luk 9,7-9

Kamis Biasa XXV C/2 2016: Silent Mode
Kamis Biasa XXV B/1 2015: Mari Berkurban
Kamis Biasa XXV A/2 2014: Memuaskan tetapi Sia-sia…Hadeh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s