Go and Blind

Beberapa hari lalu seorang presiden diberitakan pergi ke mall bersama cucunya pada saat isu lima ribu pembelian senjata dihembuskan. Hari ini diberitakan dia naik commuter line Jakarta-Bekasi saat ada demo togel 299. Njuk ngopo je? Suka-suka kuli pena saja mau memberitakan apa dan sebagaimana sudah dikatakan, suka-suka komentator dan analis saja bagaimana mau berkomentar dan membuat analisis terhadap berita-berita itu. Saya no comment saja wong saya bukan komentator politik, tetapi perhatian saya sebentar tertuju pada orang lain yang beberapa waktu lalu digambarkan sedang berada di kamar rumah sakit dengan wajah segar tetapi terpasang respirator dan perempuan di sebelahnya tersenyum. Entah apa arti senyuman bukan Monalisa itu. Saya no comment saja wong saya bukan komentator foto digital di media sosial. Saya cuma bilang perhatian saya sebentar tertuju pada sosok itu, yang hari ini memenangkan sidang praperadilannya.

Saya cuma bertanya-tanya hari ini Gereja Katolik memperingati tiga Malaikat Agung; njuk apa hubungannya dengan kemenangan pra-peradilan orang yang sakit parah itu (apanya ya)? Tentu tak harus dihubungkan, gak penting juga. Yang lebih penting, rasa saya, ialah undangan ‘come and see‘ dalam teks bacaan hari ini. Sudah dua posting saya beri judul come and see, maka tidak akan saya tambahi lagi. Saya kurangi saja dengan judul kebalikannya, kalau memang betul begitu: go and blind. Saya tidak akan melekatkan kalimat imperatif itu kepada orang-orang yang tadi saya sebutkan. Itu saya tawarkan kepada mereka yang tidak mau memenuhi undangan come and see

Zaman sekarang memang sudah begitu maju sehingga ajakan come and see itu bisa dipangkas. Untuk menunjukkan bahwa Anda sakit parah, Anda bisa datang ke foto studio dan berfoto ria. Dulu perbuatan seperti itu tak dimungkinkan. Orang hanya bisa mengandalkan trust. Sekarang tak bisa, mungkin karena sudah tak ada trust lagi, hiks3.

Maka, mungkin baik juga pada pesta para Malaikat Agung ini didoakanlah orang-orang yang punya kecenderungan untuk go and blind alih-alih memenuhi undangan come and see. Sebenarnya untuk go and blind itu melelahkan. Melelahkan diri sendiri, tetapi juga bahkan bisa melelahkan masyarakat. Ini memang bagian dari tragedi kehidupan, tetapi boleh kan mendoakan mereka yang terpanggil untuk go and blind [wong mencaci maki mereka juga malah membuang-buang energi yang mungkin pada waktunya takkan bisa diperbaharui – Barusan masuk dalam grup WA saya cerita orang Indo yang mati tersenyum tersambar petir karena dikiranya ia sedang difoto dengan flash]? Kasihan loh mereka yang go and blind, mesti setiap saat memutar otak mencari alasan, mencari celah, gali lubang tutup lubang, pergi menjauhi KPK #eh.

Mereka yang memilih go and blind ini lebih ribet dengan teori, konspirasi, dan sejenisnya. Undangan Tuhan sederhana: come and seegak usah berteori macam-macam.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin tergerak untuk mencecapi nikmat-Mu. Amin.


PESTA S. MIKAEL, GABRIEL, dan RAFAEL (Malaikat Agung)
(Jumat Biasa XXV A/1)
29 September 2017

Dan 7,9-20.13-14
Yoh 1,47-51

Posting Tahun 2016: After Sale Service
Posting Tahun 2015: Malaikat Kurang Kerjaan

Posting Tahun 2014: Zaman Modern Gini Masih Percaya Malaikat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s