Oga’ Ah

Kira-kira dua bulan lalu saya berusaha mencari peruntungan untuk mendapatkan surat sakti dari kepolisian demi santunan Jasa Raharja untuk anggota keluarga yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Dari iseng-iseng berhadiah itulah saya menjumpai aneka macam orang, aneka macam polisi, aneka macam pedagang, aneka macam lainnya. Yang mengesankan saya ialah bagaimana petugas di polsek yang terus menerus meyakinkan saya untuk mendapatkan dua orang saksi dan seakan-akan itu pasti bisa dipenuhi. Saya sendiri tak tahu apakah polisi yang bersangkutan pernah mendapatkan saksi tanpa menggunakan otoritasnya sebagai polisi.

Saya gagal mendapatkan dua orang saksi setelah dua kali ke TKP menemui orang-orang yang berbeda dengan aneka rumusan, baik dengan term ‘saksi’ maupun dengan term lain (yang semua orang juga tahu maksudnya jadi saksi), baik dengan permintaan tolong maupun dengan iming-iming imbalan (yang untuk orang Jawa itu sudah aneh). Tak seorang pun tanpa dalih dan sampai malam saya tetap gagal, dan surat keterangan dari kantor polisi tak saya dapatkan. Bukan soal kepolisian ini yang hendak saya ulas, tetapi aneka reaksi para bakal calon kandidat saksi. Dari perspektif mereka itu saya menyadari kelemahan saya juga. Saya sendiri tak pernah menjadi saksi selain untuk persidangan cerai. Mudah saja, jadwalnya jelas dan tidak bertele-tele. Saksi untuk kecelakaan, entahlah. Saya tidak merindukannya sebagaimana orang-orang yang saya temui itu melontarkan dalih.

Barangkali itu baik juga dipakai sebagai pijakan bagaimana melihat teks yang disodorkan hari ini. Orang-orang yang disodori aneka perbuatan heboh tak paham atas perkataan yang disampaikan sang guru tentang proyeksi ke depan, yaitu penderitaannya. Mereka tak paham, dan tak berani menanyakannya, seperti kebanyakan mahasiswa di kelas yang plonga-plongo dan tak berani bertanya #eh…

Begitu jugalah godaan orang beragama untuk beriman. Cukuplah berpuas diri dengan keagungan dan kemegahan atau nama besar agama yang dianutnya, tak usah tanya-tanya lebih lanjut karena konsekuensinya akan merepotkan! Ya betul itu, kalau jadi saksi mesti merepotkan! Jadi, mungkin lebih baik memang go and blind kemarin itu daripada come and see. Tinggal saja di permukaan karena bisa mendompleng nama besar daripada mesti menyelam sendiri dan risikonya besar sampai meniadakan diri sendiri. Begitulah beragama, bisa memilih untuk tinggal di permukaan, atau masuk ke kedalaman. Yang pertama kiranya lebih populer.

Tuhan, mohon kekuatan supaya kami mampu masuk ke kedalaman misteri-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXV A/1
Peringatan Wajib S. Hieronimus
30 September 2015

Za 2,1-5.10-11a
Luk 9,43b-45

Sabtu Biasa XXV C/2 2016: Jangan Lupa Bahagia!
Sabtu Biasa XXV B/1 2015: Korban Ketiga

Sabtu Biasa XXV A/2 2014: Makan, Sensasi atau Butuh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s