Search inside Yourself

Dua anak yang dikisahkan dalam perumpamaan teks hari ini sama-sama menggambarkan tendensi korup manusiawi: lebih mendengarkan kepentingan diri sendiri daripada panggilan Allah. Mirip posting kemarin: oga’ ah. Bedanya, yang pertama menutupi tendensi itu dengan jawaban munafik, sedangkan yang kedua dengan spontan menolak permintaan sang ayah. Ya, menuruti kehendak sang ayah itu memang tak enak, bekerja di kebun anggur itu tak enak, melelahkan. Lebih menyenangkan mengumbar keinginan diri, lebih menggembirakan mencari kesenangkan diri, lebih memuaskan kiranya mengikuti kehendak diri. Begitulah orang menemukan kebahagiaannya.

Mosok sih?

Grup WA sebelah membroadcast cerita begini: Mengapa Google jadi tempat kerja paling membahagiakan? Ini salah satu rahasianya: gajinya besar, makan besar hingga cemilan gratis, disediakan tempat tidur siang, disediakan berbagai sarana olahraga dan games, desain kantornya keren banyak spot selfie. Semua itu memang bikin asyik kerja di Google. Tapi ada satu hal yang ngga banyak orang tahu, yang membuat Google menjadi salah satu tempat kerja paling membahagiakan. Chade-Meng Tan, salah seorang insinyur, perancang sebuah program utk menciptakan suasana membahagiakan di Google. Dia menggagas sebuah program untuk karyawan Google namanya Search Inside Yourself. Programnya banyak dan unik-unik. Tapi saya mau share satu aja yang menurut saya simple tapi jleb.

Meng mengajarkan sebuah latihan pikiran selama 10 detik saja. Pikirkan dua orang yang ada di ruangan ini, lalu katakan dalam hati “Saya mendoakan dengan tulus agar si A bahagia, Saya mendoakan dengan tulus agar si B bahagia,”. Latihan simpel ini ternyata telah mengubah banyak orang. Setiap orang yang sudah mempraktikkan ini akan tersenyum dan merasa lebih bahagia dibanding 10 detik yang lalu. Meng pernah mengajarkan praktik ini di sebuah seminar pada selasa malam. Dia menyarankan kepada audiens untuk mempraktikkannya besok saat kerja. 10 detik setiap jam. Pilih secara acak dua orang yang melintas di kantornya. Karena ini cuma dalam pikiran, tidak ada hal yang menyulitkan atau memalukan.

Pada hari Rabu Meng mendapat email dari salah seorang yang mempraktikkan latihan ini,”I hate my work, I hate coming to work every single day. But I attended your talk on Monday, did the homework on Tuesday, and tuesday was my happiest day in 7 years.” Mengapa praktik ini begitu efektif untuk menciptakan suasana bahagia dalam hati? Ketika mempraktikkan latihan ini saya baru sadar bahwa sumber stress adalah karena kita sibuk memikirkan diri kita. Coba cek doa-doa kita, 99% untuk kebaikan, kebahagiaan, kekayaan diri kita sendiri. Kayaknya ngga pernah deh kita menyelipkan doa untuk tetangga yang lagi susah, tukang mie tek-tek yang malam-malam lewat, atau petugas PLN yang ngecek meteran. Padahal salah satu sumber kebahagiaan itu ternyata adalah melakukan kebaikan untuk orang lain.

Begitulah ceritanya. Anak kedua bertobat dan di situlah terletak keselamatannya, kebahagiaannya: mendengarkan Yang Lain dan melaksanakan kehendak Yang Lain itu. Ironisnya, dalam hidup rohani, itu bisa dibuat dengan search inside yourself. Perjumpaan dengan Allah dialami ketika orang masuk ke dalam diri sendiri dan keluar dengan membawa kehendak Allah bagi dunia: semoga semua makhluk berbahagia.


MINGGU BIASA XXVI A/1
1 Oktober 2017

Yeh 18,25-28
Flp 2,1-11
Mat 21,28-32

Posting Tahun 2014: Walk Out Gak Eaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s