Simple is Better, Hopefully

Orang yang bernama Thomas Kuhn konon menyentil orang-orang yang punya fanatisme terhadap sains sebagai satu-satunya cara berpikir yang sahih. Ia cukup sinis terhadap anggapan sains sebagai the secure path of knowledge. Bolehlah sinis sedikit soalnya kalau dipikir-pikir yang ada benarnya juga. Dulu Ptolemaus mengumpulkan data dan diteruskan secara seksama oleh Kepler. Kepler menolak gagasan geosentrisme Ptolemaus. Ia meyakini heliosentrisme, tetapi menggambarkan gerak orbit planet berbentuk elips. Copernicus menggunakan data yang dipakai Kepler juga, tapi kok kesimpulannya bisa lain ya? Dua-duanya memakai data yang sama dan keduanya juga bisa menjelaskan fenomena semesta. Njuk gimana mau mengatakan sains sebagai the secure path of knowledgeIki ngopo toh Mo bahas Thomas Kuhn Copernicus Kepler Ptolemaus segala? Eling Mo ini bulan Kitab Suci!

Bagaimana ya, teks hari ini melontarkan kesan simplicity je: yang diutus pergi itu tak perlu membawa tetek bengek yang malah membuat ribet utusan untuk menjalankan tugas. Yang simpel-simpel aja dah!

Jebulnya, simplicity adalah koentji, Saudara-saudara! Bukan segala-galanya, tetapi kunci. Kembali lagi ke Copernicus dan Kepler itu. Keduanya sama-sama penyokong kaum bumi bulat, tapi masih ada perbedaan dalam menjelaskan gerakan planet mengitari matahari. Bagi orang zaman sekarang tentu mudah memahaminya bahwa revolusi bumi itu berbentuk lingkaran, bukan elips. Tidak demikian halnya pada zaman Kepler dan Copernicus. Butuh proses persuasi dan bahkan otoritas tertentu sampai akhirnya lebih banyak orang percaya pada gambaran sistem tata surya sekarang ini. Kenapa gagasan Kepler ditolak? Salahkah? Who knows

Salah satu yang membuat semakin banyak saintis menyangsikan model yang disodorkan Kepler ialah bahwa model itu lebih ribet dan akan muncul banyak pengecualian dalam menjelaskan semesta alam itu. Lha, kalau hukum lebih banyak pengecualiannya apa ya bukan berarti ada kekeliruan dalam merumuskannya? Simplicity rupanya menjadi salah satu faktor penting banyak orang menerima model yang disodorkan Copernicus. Kata Paus Fransiskus dalam kaos: simple is better.

Tentu saja, kalau mau konsekuen, ungkapan itu sendiri tak perlu dipertuhankan. Tak ada juga orang yang mau mempertuhankan ungkapan kecuali mereka yang ideologis abis. Ada kalanya sophistication is better. Yang susah kan untuk menentukan kapan yang sederhana itu jadi lebih baik dan kapan yang sophisticated atau complicated itu lebih baik.

Entahlah, kalau mengikuti bacaan hari ini, rupanya simplicity itu diperlukan dalam level praksis dan yang sophisticated itu lahannya pada ranah teori. Maka dari itu ada orang yang menanggapi hiruk pikuk kacau balau simpang siur tindakan politis si anu inu dengan dolan ke mall seperti tetangga kamar saya yang senantiasa mengajak saya ke mall padahal laporan bacaannya seabreg, huaaaaaa.

Ya Allah, bantulah kami untuk semakin sederhana dalam menjalankan tugas perutusan-Mu. Amin.


HARI RABU BIASA XXV A/1
Peringatan Wajib S. Vinsensius a Paulo
27 September 2017

Ezr 9,5-9
Luk 9,1-6

Rabu Biasa XXV B/1 2015: Traveling Light
Rabu Biasa XXV A/2 2014: Apa yang Terpenting?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s