Papa Bisa Aja

Apa yang Anda ingat hari ini kalau melihat tiang yang tegar sepanjang hidupnya? Apa? Papa? Papa yang mana? Yang kemarin hilang itu? Wuahaha… mana mungkin papa hilang? Dia mengemban tugas negara loh dan kemarin gegara mau ke kantor KPK jadinya malah kena tiang deh mobilnya sampai dianya benjol sebesar bakpao. Aih aih aih, papa bisa aja.

Ingatan saya tertuju pada tiang garam istri Lot yang disinggung bacaan hari ini (Ingatlah akan istri Lot!). Siapa toh Lot itu? Apa hubungannya dengan Tanah Lot di Bali, atau apakah dia begitu berjasa bagi Amerika sehingga di banyak tempat namanya diabadikan sebagai parking lot?
Saya tak akan mendeskripsikan siapa (istri) Lot itu. Ceritanya pasti ada di Wikipedia, misalnya. Hari gini, mestinya rasa kepo bisa diatasi dengan eyang Google dan mbak Wiki, bukan?

Yang tak tersedia di sana tentu refleksi terhadap kisah-kisah seperti cerita istri Lot itu. Eh, tapi gak juga ding, bahkan termasuk refleksinya ada juga yang sudah dicantolkan di dunia daring. Yang saya sampaikan ini pasti belum ada di dunia daring kecuali yang saya tuliskan ini. Gimana toh refleksinya, Mo? Ya gitu deh. Mengenai perasaan, saya geregetan kenapa si papa tega-teganya berkelit ke sana kemari bahkan sampai “bermain-main” dengan rumah sakit. Eh, salah, ini cerita papa ato istri Lot sih? Woh, istri Lot ding. Saya geregetan karena sudah dipesan oleh orang tepercaya supaya tidak usah menoleh ke belakang, lha kok ya menoleh ke belakang gituloh! Jadilah tiang (bakpao) garam! Apa sih yang membuatnya menoleh ke belakang? Harta milik yang ketinggalan? Luka batin yang disayang-sayang? Mantan yang (gak) penting dikenang-kenang?

Mengenai pikiran atau insight, dari bacaan hari ini juga kelihatan bahwa waktu kedatangan Tuhan itu senantiasa tak terduga, entah dalam sejarah, entah nanti seusai sejarah. Tahu-tahu orang terlambat mengkajinya. Coba lihat misalnya sampai detik ini pun masih ada orang yang sibuk hendak menyangkal eksistensi Allah (atau sebaliknya, membela Allah). Saya sih menontonnya saja (sebagaimana mereka juga menonton orang-orang yang mengklaim adanya Allah itu) dengan paradigma humor seperti Yesus juga kerap guyon dengan paradoksnya: mati-matian menyelamatkan nyawa malah kehilangan nyawa (semoga papa tidak benar-benar kehilangan nyawa, sekurang-kurangnya hari ini deh). Di mana ada manusia, di situ selalu ada kematian mengintai. Orang berjalan bersama kematian. Kematian ikut menyertai orang, sewaktu dia pergi ke KPK dan nyasar ke rumah tiang (halah! Move on move on move on! Ternyata gak move on itu ada lucunya juga). 

Mengenai kehendak, saya tergerak untuk menuntun saudari kematian ini pada jalan lurus yang klop dengan common sense yang terbuka pada kritik, yang bisa jadi berupa fakta, bisa jadi imajinasi progresif, sehingga saya tak terjerembab oleh masa yang tlah usai, ciyeh…

Ya Tuhan, curahkanlah Roh Kudus-Mu kepada bapak ibu terhormat yang sepak terjangnya memengaruhi hajat hidup orang banyak supaya semakin tampak kemuliaan-Mu lebih daripada kemunafikan mereka (dan kami sih). Amin.


HARI JUMAT BIASA XXXII A/1
Peringatan Wajib S. Elisabet dari Hungaria
17 November 2017

Keb 13,1-9
Luk 17,26-37

Jumat Biasa XXXII C/2 2016: Post-Power Syndrome
Jumat Biasa XXXII B/1 2015: Kenal Dalangnya?
Jumat Biasa XXXII A/2 2014: Semakin Rohani Semakin Lembut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s