Doa Wajib Fakultatif

Sebetulnya berdoa itu sifatnya fakultatif atau wajib ya? Kok dalam bacaan hari ini dikatakan ‘harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu’? Itu artinya wajib, bukan? Akan tetapi, mengapa, misalnya, kok ada agama yang mewajibkan umatnya berdoa tujuh kali sehari, lima kali sehari, seminggu sekali, sebulan sekali, dan seterusnya? Kalau tidak bisa dibilang bahwa agama yang mewajibkan doa tujuh kali sehari itu adalah agama yang paling benar sejagad, berarti, orang bebas memilih mau doa yang berapa kali, bukan? Jadi gimana dong?

Mari tinjau apa yang pernah dituliskan pada blog ini: Ber-Tuhan tanpa Agama? Mungkinkah? Mungkin. Beberapa waktu lalu MK mengeluarkan keputusan bahwa penghayat kepercayaan bisa memasukkan kepercayaan yang bersangkutan pada kolom agama. Ini bisa dimaknai juga sebagai pembongkaran arogansi world religions yang disusupi paradigma Kristiani (itu loh bahwa agama mesti bernabi, berkitab suci, bersyahadat, berjemaat) sehingga tak ada perendahan agama asli sebagai agama primitif. Kalau begitu, orang bisa saja ber-Tuhan tanpa memeluk salah satu dari world religions tadi. 

Njuk, berarti doa tadi fakultatifkah? Andaikan ada agama lokal yang tak mewajibkan anggotanya untuk berdoa sekalipun, berarti memang doa itu ya fakultatif.
Hmmm… mungkin baik juga disimak dulu dari mana pertanyaan itu dilontarkan. Bisa jadi itu muncul dari paradigma world religions tadi: bahwa doa adalah sholat lima waktu, atau brevir tujuh kali sehari, atau perjamuan sebulan sekali, atau setahun sekali. Singkatnya, doa formal nan ritual. Itu wajib sifatnya, kalau tidak dijalankan ya berarti menodai komitmen komunitas religius tertentu, begitu saja. Artinya, urusannya dengan umat lain, meskipun ritualnya sendiri dimaksudkan sebagai pujian dan penyembahan kepada Allah.

Weh weh weh, Romo ini menyesatkan ya. Mosok doa formal nan ritual urusannya dengan umat belaka? Lha ya memang kok. Coba deh kalau Anda gak menjalankan kewajiban itu, siapa yang bawel? Tuhan? Enggak, tapi tetangga, bapak simbok, sahabat, pemimpin agama, dan sejenisnya. Tuhan diam saja, bukan?

Sik sik, Mo; sik sik, Mo. Sewaktu saya gak misa hari Sabtu/Minggu itu orang tua gak bawel kok, cuma dalam hati saya kok gak tenang gitu Mo. Teman saya juga kalau tak sholat batinnya gak tenang; seperti ada yang kurang gitu, Mo. Apakah itu bukan manifestasi teguran dari Roh Allah sendiri?
Non sequitur, tak selalu berarti begitu! Bisa juga itu datang dari conditioning yang ditanamkan ke otak kita sejak kecil. Lah, trus gimana tahu itu conditioning atau dorongan Roh Allah ya?

Dibutuhkan kejujuran pada diri sendiri [lha emang pada siapa lagi?]: apakah conditioning itu membawa buntut kebebasan atau ketakutan, ujungnya konsolasi atau desolasi. Kalau ujung-ujungnya orang takut dan desolasi, itu berarti suara batinnya adalah hasil conditioning psikologis belaka. Di balik itu semua, bercokollah iman dan itu yang dipersoalkan pada akhir bacaan hari ini. Jadi, tak relevan lagi pertanyaan apakah doa itu wajib atau fakultatif: iman berhembus ke mana.

Ya Allah, mohon rahmat keterpautan hati pada-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XXXII A/1
18 November 2017

Keb 18,14-16;19,6-9
Luk 18,1-8

Sabtu Biasa XXXII C/2 2016: Mbok Tulus
Sabtu Biasa XXXII B/1 2015: Teror Doa?
Sabtu Biasa XXXII A/2 2014: Berdoa Kagak Kenal Cape’

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s