God’s Talent

Anda tentu pernah dengar program acara semacam Indonesia’s Got Talent atau Australia’s Got Talent atau nama francise Got Talent itu. Juga pernah Anda dengar istilah pemandu bakat, orang yang piawai menemukan bakat seseorang dalam olah raga, olah suara, olah gerak, olah TKP, atau olah tiang listrik (hayo hayo hayo balik lagi ke sana, dhak thuthuk kowe!) sehingga bahkan kalau orang mendengar cerita mengenai talenta dalam bacaan hari ini, ia cenderung memahami talenta sebagai bakat atau kemampuan terpendam seseorang untuk bidang-bidang tertentu. Akibatnya, orang bisa saja memakai teks bacaan hari ini untuk memberi nasihat moral (lagi) supaya mengembangkan segala bakat yang dia punya, yang diberikan Allah. 

Sayangnya, bukan talenta seperti itu yang dimaksudkan oleh bacaan hari ini dan karena itu sebetulnya tidak tepatlah memahami bakat atau talenta sebagai kemampuan terpendam seseorang untuk melakukan keterampilan tertentu seperti diperlombakan dalam Got Talent tadi. 

Perlu diingat bahwa bacaan hari ini diambil dari teks Matius, yang ditulis untuk orang-orang Yahudi yang akrab dengan harta karun luar biasa, yang telah menentukan bagaimana bangsa itu bertahan hidup dalam relasi dengan Allah mereka: hukum Taurat yang tertulis dalam loh batu Musa, alias hukum Musa yang diberikan Allah sendiri kepada umat manusia. Meskipun demikian, harta karun itu takkan berarti jika dalam diri orangnya sendiri tidak hidup Roh yang bisa sekurang-kurangnya jadi trigger untuk make the most of harta karun tadi [halah tengil banget ki Romo pake’ bahasa Prancis segala]. 

Itulah yang dimaksudkan dengan talenta tadi: yang menggerakkan orang seturut dengan kapasitasnya masing-masing untuk beranjak dari zona nyaman, membebaskan diri dari kemalasan dan ketakutan untuk mengambil risiko, melakukan pemilihan antara yang baik dan yang lebih baik lagi, dan seterusnya. Arahnya ke mana? Ke dunia yang lebih bersahabat bagi semua, kawan dan lawan, dunia tanpa diskriminasi, dunia yang adil dan beradab, dan seterusnya. Singkatnya, dunia mukjizat.

Itulah harta karun yang diwariskan oleh tuan dalam perumpamaan tadi jika dihubungkan dengan bagian lain dalam Kitab. Ini bukan harta karun yang terima jadi, melainkan harta yang mesti dibangun dari kedalaman diri. Maka dari itu, hamba yang ketiga, yang cuma menerima satu talenta itu, dicela karena kemalasannya membuang-buang waktu sehingga tak memiliki daya ubah terhadap talenta yang diterimanya. Ini orang yang sudah berpuas diri dengan keadaan, tak kreatif melihat peluang terbuka untuk memberi dinamika yang hidup pada dirinya sendiri maupun orang lain. Prihatin deh kalau orang beriman tidak punya dinamika, amem, hangat-hangat tahi ayam, dari dulu gituuu terus.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin terampil menilik kekuatan batiniah untuk menggairahkan hidup yang kini dan di sini. Amin.


MINGGU BIASA XXXIII A/1
19 November 2017

Ams 31,10-13.19-20.30-31
1Tes 5,1-6
Mat 25,14-30

Posting Tahun 2014: Setan Ketakutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s