Apa Harapan Papa

Hari ini dua dosen saya berdebat di hadapan para mahasiswanya. Entah disengaja atau tidak, perdebatan sengit itu malah mengundang perhatian yang lebih intensif dari mahasiswanya. Apa sih yang diperdebatkan? Gak usah dibahas di sini deh, ini kan bukan blog perkuliahan. Lagipula, saya gak ngerti juga gimana menjelaskannya tanpa konteks keseluruhan perkuliahan dengan paparan kurang dari 200 kata. Pokoknya aja deh ya, tentang perbedaan paradigma kepercayaan religius lokal/etnis dan paradigma “agama dunia” bikinan manusia (meskipun tentu diklaim berasal dari wahyu Allah) mengenai kehidupan. Nah, gak tertarik, bukan? Makanya nonton dosennya debat dulu…

Salah satu dari dosen yang berdebat itu adalah seorang profesor bule yang punya perhatian pada isu seputar konflik antaragama dan intoleransi di Indonesia. Susah menilai apakah intoleransi di Indonesia itu meningkat atau menurun, tetapi yang berkesan untuk saya ialah bagaimana ia membedakan optimisme dan harapan di tengah-tengah aneka macam persoalan di Indonesia ini. Sudah lama sih saya mendengar pembedaan itu tetapi tidak dalam diskusi akademik; sudah saya singgung juga pada posting Optimisme Tanpa Harapan, Jadi Apa? Pertanyaan profesor ini agak menohok juga: apakah Islam di Indonesia bisa jadi harapan bagi kemajuan peradaban dunia? Jawaban dia sendiri positif. Wong namanya harapan, tentu melampaui apa yang de facto sedang berkecamuk.

Tapi mari lihat kasus papa yang sudah berpindah dari rumah sakit yang satu ke rumah sakit yang lain dan berujung di rumah tahanan (eh, atau sudah di rumah sakit lagi?). Optimis kasus megakorupsi ini akan tertuntaskan oleh KPK? Tentu boleh, tetapi bahasa bunga tampaknya lebih mengindikasikan harapan akan arah ke depan yang lebih baik. Anything may happen, tetapi secercah harapan baik dijadikan dukungan bagi niat baik untuk memajukan bangsa, mengembangkan kemanusiaan yang lebih beradab.

Bacaan hari ini mengisahkan orang buta yang meminta kesembuhan. Saya duga ini bukan orang buta sejak lahir. Ia ‘cuma’ kehilangan penglihatan, sebagaimana saya ditakut-takuti teman bisa kehilangan penglihatan karena banyak membaca [setahu saya kalau semakin banyak baca ya semakin banyak kehilangan ingatan]. Akan tetapi, dari kisah orang buta itu bisa ditengarai bahwa ia tidak kehilangan harapan, yang melampaui sakitnya, bahkan kemudian mendorongnya untuk merealisasikan prinsip dasar hidupnya untuk memuliakan Allahnya.

Ya Allah, tambahkanlah harapan kami untuk dapat terlibat membangun dunia yang semakin layak untuk dihuni bagi semua. Amin.


HARI SENIN BIASA XXXIII A/1
20 November 2017

1Mak 1,10-15.41-43.54-57.62-64
Luk 18,35-43

Senin Biasa XXXIII C/2 2016: Mana Gembiranya?
Senin Biasa XXXIII B/1 2015: Transformer
Senin Biasa XXXIII A/2 2014: Dah Tau Nanya’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s