Awas Orba Kembali

Konon bangsa Yahudi masih menantikan kedatangan Mesias, bersama orang-orang Kristiani yang menantikan kedatangannya kembali dan orang-orang Islam yang menantikan Isa al-Masih di akhir zaman. Apakah sosok yang dinantikan itu sama atau tiga pribadi yang berbeda, entahlah. Dugaan saya sih sama, tapi ya mboh. Nanti lihat saja di akhir zaman daripada èyèl-èyèlan gak jelas.
Sebelum zaman berakhir, mendingan kita fokus pada bagaimana dunia ini jadi rumah yang lebih layak huni bagi semua makhluk (ciyeh sok ekologis euy).

Yang membuat saya risau bukan datang atau kembalinya sosok Mesias atau al-Masih atau Yesus Kristus tadi, melainkan kembalinya Orde Baru. Meskipun kemungkinannya kecil, tetapi zaman post-truth ortu hoaks gituloh, apa saja bisa terjadi. Ibu kota contohnya.
Kenapa sih risau?
Kalau Anda simpatisan gerakan mahasiswa 1998, tentu tahu. Kalau Anda lahir dekat-dekat 1998 dan tidak berkenan belajar sejarah, mungkin perlu dibocorkan arti Orde Baru. Ah, tapi kata bocor kok agak sensitif ya di telinga; malah jadi ingat empat tahun lalu ada label capres yang erat terkait dengan kata bocor ini.
Oh, yang sekarang jadi capres lagi itu?
Hah? Maju pilpres lagi????
Ah, Romo ini kura-kura tidak tahu.
Bukan gitu, saya cuma pura-pura dalam perahu kok. Soalnya, di luar sana, ada yang mau menghadirkan kembali aroma Orde Baru. Tentu saja, klaimnya adalah meneruskan yang baik, menghentikan yang tidak baik. Akan tetapi, kenapa acuannya Orde Baru yang terbukti selama tiga dekade menganaktirikan luar Jawa?

Persoalannya mungkin bukan bahwa program Orde Baru buruk, melainkan bahwa program itu tidak dikerjakan. Bayangkan booming harga minyak dunia yang membuat Indonesia dapat rezeki nonblok #ehnomplok di tahun 70-an. Duit cuma-cuma sebanyak itu, ke manakah larinya? Andaikan infrastruktur di luar Jawa sudah jadi pada tahun 70-an, dan tak ada KKN, saya pastikan Orde Baru akan berlangsung lebih lama, mungkin sampai Soeharto genap 35 tahun jadi presiden, eaaaaa.

Rom, ngapain sih bahas beginian, memangnya bacaannya apa? Trus, bukannya tadi introduksinya soal penantian Mesias al-Masih Yesus Kristus?
Oh iya, justru karena bacaan itu saya kepikiran promosi kembalinya Orde Baru kemarin. Lagi, persoalannya bukan apakah tiga label tadi merujuk pada sosok yang sama, melainkan pertanyaan ini: Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?

Itulah yang bikin risau: bangsa ini boleh saja membakukan agama dari lima jadi enam atau tujuh atau delapan dan seterusnya. Pertanyaannya sama: ada imannya gak?
Lha tahunya ada iman atau enggak dari mana?
Pada teks bacaan pertama ada kata πιστὸν (piston) yang berhubungan dengan sifat keberimanan. Parameternya: kalau orang mengerjakan sesuatu untuk kebaikan bersama!

Artinya? Iman bukan soal gontok-gontokan karena Yahudi-Kristiani-Islam, melainkan soal kerja, kerja, dan kerja untuk kebaikan bersama, dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada ceritanya Orde Baru benar-benar memeratakan pembangunan! Baru beberapa tahun ini loh dikerjakan (itu juga dinyinyirin)! Oleh capres mana? Eaaaa betul.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk bekerja bagi kebaikan bersama. Amin.


SABTU BIASA XXXII B/2
Peringatan Wajib S. Elisabet dari Hungaria
17 November 2018

3Yoh 1,5-8
Luk 18,1-8

Sabtu Biasa XXXII a/1 2017: Doa Wajib Fakultatif
Sabtu Biasa XXXII C/2 2016: Mbok Tulus
Sabtu Biasa XXXII B/1 2015: Teror Doa?

Sabtu Biasa XXXII A/2 2014: Berdoa Kagak Kenal Cape’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s