Kiamat Datang

Dulu sewaktu masih kecil (sekarang juga masih sih) tapi sudah sangat lancar membaca, saya kerap membaca surat kabar yang memberikan aneka berita mengenai kecelakaan, perampokan, pencurian, kebakaran, banjir, bencana alam, dan sejenisnya. Pokoknya dunia ini adanya yang jelek jeleeeeek aja. Surat kabar apakah itu? Iya betul, Pos Kota namanya. Entah apakah sekarang versi cetaknya, dengan kolom kartun ‘Si Doyok’-nya, masih ada atau tidak. Syukur kalau masih ada. Kalau tidak, juga syukur sih. Lha piye maneh memang hidup ini cuma untuk bersyukur kok.

Terlepas dari mau bersyukur atau tidak, berita-berita tentang kejahatan dan bencana itu memang cenderung membuat orang prihatin atau takut karena kekuatan gelap jebulnya masih eksis. Mungkin orang malah bisa bertanya,”Kapan ya giliranku?” alih-alih memelihara parnonya dengan ideologi “jangan-jangan”-nya atau, bagi fundamentalis radikalis religius dengan segala kroco-kroconya, keukeuh pada permainan mencocokkan gambar dengan tanda-tanda dajal seakan-akan dunia sudah kiamat.

Mungkin memang betul bahwa dunia sudah akan kiamat, tetapi itu betul sudah sejak dua ribu tahun lalu (bahwa dunia sudah akan kiamat). Bahwa banyak bencana, bahwa suhu bumi meningkat, bahwa kekeringan melanda, bahwa air di Laut Mati terus susut, boleh saja ditafsirkan sebagai indikasi dunia akan kiamat dalam waktu dekat. Akan tetapi, sekali lagi, nuansa itu sudah ada sejak dua ribu tahun lalu. Guru dari Nazareth dan pendahulunya berkeyakinan bahwa ‘waktunya sudah dekat’ dan orang mesti bertobat.

Kalau Anda memperhatikan blog ini baik-baik, Anda akan menemukan bahwa pertobatan itu tidak bergandengan dengan ‘waktu’ yang sudah mendekat. Entah ‘waktu’-nya mendekat atau menjauh, bertobat ya bertobat aja. Ini bukan untuk perkara nanti, melainkan untuk sekarang. Anda tidak butuh kiamat minggu depan untuk mengirit air. Kita tidak butuh kiamat besok untuk memperbaiki sistem pengelolaan limbah yang kurang sustainable. Presiden juga tidak butuh kiamat kemarin untuk membangun infrastruktur yang mestinya ramah lingkungan (loh, ya telat no, Rom). Begitu seterusnya.

Yang dibutuhkan bukan informasi akurat kapan kiamat datang, melainkan iman yang kuat untuk membawa terang.
Pokoknya, daripada risau dengan kiamat, lebih risaulah pada kedatangan kembali mentalitas Orba yang saya wanti-wanti kemarin. Ini bukan karena saya anti pembangunan (karena saya adalah penikmatnya), melainkan anti mental KKN yang menyertainya, yang dengan susah payah hendak dilawan Jokowi, termasuk korbannya, a man called Ahok. Mental KKN ini yang bikin pembangunan tadi tak pernah merata dari Sabang sampai Merauke.

Ya Tuhan, mohon kekuatan iman untuk membangun dunia yang semakin adil bagi semua. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXXIII B/2
18 November 2018

Dan 12,1-3
Ibr 10,11-14.18

Mrk 13,24-32

Minggu Biasa XXXIII B/1 2015: Agama Membosankan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s