Dicari: Liyan

Selalu dibutuhkan liyan untuk bisa melihat. Tanpa liyan, orang tak bisa melihat. Berbahagialah orang yang bernama Liyan, eaaaaa. (Ke mana ya anak itu sekarang? Jangan-jangan sudah berubah jadi Tara Liya yang terkenal itu.)
Bukannya yang penting tidak buta ya, Rom, supaya bisa melihat?
Iya betul, justru itulah, supaya tidak buta, dibutuhkan liyan. Cobalah melihat tanpa cahaya, tanpa objek, bisakah mata kita melihat melihat mata sendiri?
Bisa, Mo, pake’ cermin.
Lha iya itulah, cermin juga liyan.

Btw, minggu lalu teman saya mengeluarkan metafora andalannya: meskipun pipi kita itu dekat dengan bibir, tapi kita butuh bibir orang lain untuk menciumnya.)

Teks bacaan hari ini mengingatkan saya pada kebutuhan akan liyan itu supaya orang mengalami perjumpaan sesungguhnya dengan Tuhan. Ini cerita orang buta yang cuma bisa mendengar suara ramai tapi tak melihat apa yang sedang terjadi sehingga ia mesti bertanya kepada orang di sekitarnya.

Begitu pula teks yang hari-hari ini saya gumuli, menuturkan sejarah bagaimana sekelompok orang mesti bertanya kepada yang lain supaya mereka mendapat status dan bisa survive di Indonesia. Siapakah kelompok orang itu? Orang-orang Hindu di Bali, yang baru pada tahun 50-an agamanya diakui. Siapa yang mengakui? Ya agama yang dianggap dominan tentu saja, yang dikenal sebagai kelompok World Religions, yaitu Islam dan Kristiani. Begitulah arogansi ‘agama-agama dunia’: mereka yang menentukan esensi agama, tak perlu tanya pada kelompok minoritas!

Hebatnya, orang Bali itu sampai bela-bela’in studi banding ke India loh supaya mereka punya koneksi dengan kehinduan. Yang susah tentu saja adalah kelompok religius lokal yang penganutnya mungkin cuma berapa ratus, yang selalu rentan pada predator proselitisme agama-agama dunia tadi. Ini mengerikan. Mengapa mengerikan? Bukankah lebih baik mereka memeluk agama daripada gak jelas gitu, Mo?

Saya tak tahu, tetapi saya butuh liyan; dan karena mereka, yang minoritas itu, juga adalah liyan, bisa jadi justru merupakan sumber tepercaya untuk bertanya mengenai apa yang sesungguhnya orang cari dalam hidup ini dan bagaimana mereka mencarinya. Kalau saya bertanya pada yang mayoritas, jawabannya sudah bias mayoritas, bias dominasi, bias kekuasaan, dan mungkin terpapar kelompok radikal. Konkretnya gimana sih, Rom?

Coba lihat salah satu doktrin mengenai Yesus dalam agama Katolik, misalnya: Ia sungguh Allah, sungguh manusia. Dyaaar kono, piyé kowé arêp njêlaské?
Coba Anda tanya pada yang Katolik untuk menjelaskannya, hahaha. Bisakah mereka menjelaskannya?
Lha Romo kan Katolik?
Oh iya ya, saya Katolik, tapi saya tak bisa menjelaskannya je. Paling banter ya cuma menunjukkan konteks bagaimana rumusan itu muncul, tetapi juga apa bisa konteks itu dipahami dalam dunia post-truth ini? Manusia kok Allah, Allah kok manusia! Hoaks.

Barangkali lewat agama lokal malah bisa ditangkap persoalan sesungguhnya: yang penting bukan rumusan bahwa Yesus itu Allah dan manusia, melainkan kenyataan bahwa dua pihak itu berpelukan, dan semestinya orang beragama mencari tempat berpelukannya dengan Allah, yang tentu saja ada di dunia ini.

Tuhan, mohon rahmat kerendahhatian supaya kami mampu memeluk-Mu di sini dan sekarang ini. Amin.


HARI SENIN BIASA XXXIII B/2
19 November 2018

Why 1,1-4; 2,1-5a
Luk 18,35-43

Senin Biasa XXXIII A/1 2017: Apa Harapan Papa
Senin Biasa XXXIII C/2 2016: Mana Gembiranya? 

Senin Biasa XXXIII B/1 2015: Transformer

Senin Biasa XXXIII A/2 2014: Dah Tau Nanya’

5 replies

  1. Halo romo tdk sengaja baca koran dn tak sengaja baca blog ini entah kenapa ada kese”nadaan”…

    …bahwa liyan sejatinya adalah wajah kita yang tengah bersama sama melakoni penghayatan keagamaan menuju muara suci perjumpaan dengan wajah kudus Ilahi

    Asep Salahudin (wakil rektor IAILM Tasikmalaya, Staf Ahli BPIP)

    #Teologi politik damai (opini kompas, 19 nov 2018)

    Suwun Romo🙏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s